Halloween party ideas 2015

Ia memutuskan masuk Islam pada usia 49 tahun, setelah lebih dari 30 tahun melakukan riset dan menjalani berbagai pengalaman hidup. Tahun 1997, warga Amerika keturunan Yahudi yang berprofesi sebagai wartawan dan penulis ini, mengucapkan dua kalimat syahadat dan menggunakan nama islami Suleyman Ahmad. Hingga sekarang, ia dikenal dengan nama itu.
Ahmad mengatakan, keputusannya memeluk agama Islam, merefleksikan banyak hal yang pernah ia saksikan dalam alami sepanjang hidupnya. Ia lahir dari keluarga Yahudi, tapi kedua orang tuanya memeluk agama yang berbeda. Ayahnya memeluk agama Yahudi dan pernah belajar di sekolah Yeshiva, sekolah agama Yahudi untuk anak-anak muda. Sedangkan ibu Ahmad, penganut Protestan yang taat.
“Ibu saya rajin membaca Alkitab dan sangat paham dengan isi Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,” ujar Ahmad.
Situasi politik di tahun 1930-an membawa perubahan bagi kehidupan religius kedua orang tuanya. Ibu Ahmad menyatakan keluar dari agama Kristen sebagai bentuk protes terhadap apa yang dilakukan Nazi pada orang-orang Yahudi. Ibu Ahmad lalu beralih memeluk Yudaisme.
“Kedua orang saya hidup dalam kondisi paradoks yang tragis. Mereka cukup lama hidup dibawah pengaruh Partai Komunis, sementara mereka menjadi pemeluk Yudaisme karena kecewa dengan agama Kristen yang menurut mereka agama yang gagal,” ungkap Ahmad.
Meski penganut Yudaisme, tambah Ahmad, kedua orang tuanya bukan seorang Zionis. Ahmad sendiri mengaku sedih melihat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya konflik Israel-Palestina. “Saya selalu merindukan terciptanya keadilan dan persahabatan antara orang-orang Israel dan Arab,” tukasnya.
Ahmad mengaku sebagai orang kiri yang ekstrim dan radikal di masa mudanya. Ia percaya adanya Tuhan, tapi tidak pernah terlalu serius menanggapi masalah ketuhanan dalam hidupnya. Ketika ia mulai melakukan pencarian akan kehidupan spiritualnya, Ahmad tertarik pada ajaran Katolik. Namun ia tidak pernah menyatakan diri pindah dari Yudaisme ke agama Katolik.
“Saya sangat terkesan dengan literatur agama Katolik yang mistis. Saya mulai mengetahui bahwa dibalik pencapaian besar agama Katolik di Spanyol, ada sejarah Islam di sana. Agama Islam yang indah telah banyak memberikan inspirasi pada tradisi di Spanyol,” tutur Ahmad.
Ia jadi sering bolak balik ke Spanyol, menelusuri sisa-sisa masyarakat Islam di semenanjung Iberian. Sebagai penulis, ia melakukan riset atas fenomena pengaruh budaya Islam terhadap tradisi Spanyol selama bertahun-tahun, ia juga mempelajari puisi-puisi karya seniman Spanyol yang membuktikan dalamnya pengaruh Islam pada karya-karya mereka.
Setelah sempat mempelajari Kabbalah–tradisi mistis masyarakat Yahudi–pada tahun 1979, Ahmad akhirnya tertarik pada ajaran Islam. Ia memutuskan untuk mempelajari Islam pada tahun 1990-an, ketika ia ditugaskan ke kawasan Balkan sebagai wartawan. Ia datang ke Sarajevo untuk melaporkan perang Bosnia ketika itu.
“Di Sarajevo, saya menemukan banyak hal yang mengagumkan. Saya seperti menemukan Eropa yang islami. Suasananya tidak membuat saya merasa sebagai turis. Di sini saya bertemu dan berinteraksi langsung dengan warga Muslim dan para pemuka agama Islam …”
“Saya menemukan banyak puisi dan musik-musik yang mengekspresikan nilai-nilai Islam yang penuh cinta dan kemuliaan. Saya menemukan sisa-sisa peradaban Islam dari zaman dinasti Ustmaniyah. Di Sarajevo, saya membaca Al-Quran dan monumen-monumen Islam,” ungkap Ahmad.
Setelah perjalanan ke Sarajevo, tepatnya pada tahun 1997, ia akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Sejak menjadi seorang muslim, Ahmad selalu dengan hati-hati memberitahu tentang keislamannya pada teman-temannya, tetangga atau rekan kerjanya. Ia tidak mau keislamannya menjadi kontroversi. Ia juga tidak mau orang berpikiran “ada sesuatu” dibalik keislamannya.
Sejak memeluk Islam, Ahmad mengaku tidak pernah mengalami hal-hal buruk terkait keislamannya. Beberapa orang di tempat kerjanya, ada yang terkejut setelah mengetahui ia sudah masuk Islam, tapi mereka tetap menghormatinya sebagai rekan kerja.
“Saya melihat beberapa orang menilai pengalaman saya bertugas di Balkan yang mempengaruhi saya masuk Islam. Saya ingin meluruskan bahwa saya masuk Islam bukan karena alasan politik atau karena masalah kemanusiaan, tapi karena meyakini bahwa pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. adalah bukti yang jelas dari apa yang diinginkan Allah dari umat manusia,” tukas Ahmad.
Ia mengungkapkan, salah satu aspek dalam Islam yang sangat membuatnya terkesan adalah ketenangan batin karena konsep berserah diri atas semua kehendak Allah. Ia melihat konsep ini tercermin dalam sikap ikhlas, sederhana dan kerendahan hati Muslim Bosnia, meski mereka sedang mengalami situasi yang penuh dengan kekejaman dan kezaliman.
Namun Ahmad mengaku sedih melihat kondisi umat Islam saat ini, yang menurutnya sudah makin terpecah belah. “Sebelum saya memeluk Islam. Saya terkesan dengan nilai-nilai yang ditunjukkan komunitas Muslim dan Amerika dan kekuatan moral yang ditunjukkan Muslim Balkan. Hari ini, saya harus mengatakan, agak sedih melihat umat terpecah belah dan saling berseteru satu dengan lainnya. Saya juga prihatin kegagalan umat Islam untuk melakukan sesuatu yang lebih besar bagi para korban imperialisme Kristen Ortodoks di Balkan,” ujar Ahmad mengungkapkan keprihatinannya.
“Tapi Islam telah membawa keindahan dan kedamaian pada hidup saya. Seperti yang sering saya katakan pada banyak orang, sisa hidup saya akan saya dedikasikan untuk beribadah pada Allah dan saya pribadi berjanji akan melakukan apa saja yang saya bisa untuk membantu membangun kembali masjid-masjid di Bosnia dan Kosovo,” tandas Ahmad. (ln/TJCI)

Kutipan dari : eramuslim.com

Ada sebuah doa yang biasa dibaca oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Isi doa ini jika kita renungkan dalam-dalam ternyata sangat mencakup berbagai permintaan yang sangat kita perlukan. Sebab semuanya sering mewarnai kehidupan sehari-hari manusia. Coba perhatikan:

رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ وَعَمْدِي وَجَهْلِي وَهَزْلِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ  
وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau biasa berdo’a dengan do’a sebagai berikut; “Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, dan perbuatanku yang berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kemalasanku, kesengajaanku, kebodohanku, gelak tawaku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan dan dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan, Engkaulah yang mengajukan dan Engkaulah yang mengakhirkan, serta Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR Bukhari – Shahih)

Tema sentral di dalam doa ini adalah seorang hamba Allah subhaanahu wa ta’aala memohon ampunan-Nya. Setidaknya ada tigabelas poin yang diajukan hamba tersebut kepada Rabb-nya. Semuanya ia harapkan diampuni oleh Allah subhaanahu wa ta’aala:
Pertama, “Ya Allah, ampunilah kesalahanku”. Kesalahan dapat mencakup perintah Allah yang dilalaikannya atau larangan Allah yang dilanggarnya.
Kedua, “Ya Allah, ampunilah kebodohanku”. Manusia tidak luput dari kebodohan. Tidak ada manusia yang memiliki pengetahuan sempurna. Dan kebodohan seseorang seringkali menyebabkan tingkahlaku yang tidak terpuji. Sehingga ia perlu memohon ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala atas kebodohan dirinya.
Ketiga, “Ya Allah, ampunilah perbuatanku yang berlebihan dalam urusanku”. Terkadang kita mengerjakan suatu perbuatan secara tidak adil atau tidak proporsional. Perbuatan berlebihan tersebut sangat mungkin menyakiti hati bahkan menzalimi orang lain. Maka kita berharap ampunan Allah atas perbuatan berlebihan di dalam berbagai urusan.
Keempat, “Ya Allah, ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku”. Manusia sering mengerjakan kesalahan tanpa ia menyadarinya. Orang lain boleh jadi dengan mudah melihat kesalahannya, tetapi ia sendiri tidak menyadarinya. Maka untuk urusan seperti ini seorang mukmin memohon ampunan Allah Yang Maha Tahu segala sesuatunya. Seorang mukmin mengakui jika Allah subhaanahu wa ta’aala merupakan Dzat Yang Maha Tahu perkara yang ghaib  maupun nyata, maka iapun mengembalikan segenap dosa yang ia sendiri tidak ketahui kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Ia serahkan dosa jenis ini kepada Ke-Maha-Tahu-an Allah subhaanahu wa ta’aala. Sebab ia yakin bahwa Allah pasti jauh lebih mengetahui dosa yang dilakukan hamba-Nya daripada si hamba itu sendiri.
Kelima, “Ya Allah, ampunilah kesalahanku”. Manusia bisa terlibat di dalam banyak kesalahan. Maka ia memohon kembali ampunan Allah atas kesalahannya padahal sebelumnya ia telah mengajukannya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala.
Keenam, “Ya Allah, ampunilah kemalasanku”. Kemalasan dapat menjadi musuh utama yang menyebabkan seseorang menunda bahkan melalaikan suatu kewajiban yang mestinya ia kerjakan. Pengakuannya di hadapan Allah bahwa dirinya terkadang dilanda kemalasan jelas mesti disertai dengan permohonan ampunan Allah atasnya.
Ketujuh, “Ya Allah, ampunilah kesengajaanku”. Harus diakui bahwa terkadang kita secara sengaja melakukan suatu kesalahan. Entah karena emosi, atau terpengaruh lingkungan atau berbagai alasan lainnya. Yang jelas, semua kesengajaan itu mesti kita istighfari, mesti kita mintakan ampunan Allah atasnya.
Kedelapan, “Ya Allah, ampunilah kebodohanku”. Subhaanallah, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengerti akan kelemahan kita yang satu ini. Manusia memang selalu kekurangan ilmu sehingga ia mustahil luput dari kebodohan. Sehingga permohonan ampunan Allah atas kebodohan diri perlu diajukan berulang-kali.
Kesembilan, “Ya Allah, ampunilah gelak tawaku yang semua itu ada pada diriku.” Apakah tertawa itu berdosa? Tentunya tidak. Tetapi bila dilakukan secara tidak proporsional ia akan mendatangkan masalah. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS At-Taubah 82)
Sementara itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَاللهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
Demi Allah, andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian jarang  tertawa dan sering menangis.” (HR Tirmidzi  – Shahih)
Kesepuluh, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu”. Kita perlu berhati-hati terhadap dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu. Sebab boleh jadi dosa tersebut belum sempat kita istighfari di waktu itu. Maka saat ini kita akui dan sesali di hadapan Allah subhaanahu wa ta’aala. Bahkan kita mohonkan ampunan Allah atasnya.
Kesebelas, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang mendatang”. Seorang mukmin sadar jika hidupnya bukan hanya terdiri atas masa lalu dan masa kini. Tetapi juga meliputi masa yang akan datang. Demikian pula dengan dosa yang dikerjakan. Ia tidak hanya terjadi di masa lalu dan masa kini semata. Tetapi tentunya sangat mungkin bisa terjadi di masa mendatang. Oleh karenanya dengan penuh kejujuran ia mengharapkan ampunan Allah atas dosa yang mendatang. Dan tentunya ini tidak boleh dilandasi niat buruk berrencana dengan sengaja berbuat dosa di masa mendatang.
Keduabelas, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang aku samarkan”. Seorang mukmin sangat khawatir dengan dosa yang ia lakukan sembunyi-sembunyi atau tersamar. Sebab ia teringat hadits sebagai berikut:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikan kebaikan itu debu yang beterbangan.” Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah jika mereka berkhulwah (menyendiri).” (HR Ibnu Majah – Shahih)
Ketigabelas, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan”. Sedangkan terhadap dosa yang ia kerjakan secara tersamar saja ia sudah sangat khawatir, maka apalagi dosa yang dilakukan secara terbuka. Oleh karenanya ia sangat memohon ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala atasnya.
Sungguh luar biasa, ketigabelas poin di atas jelas merupakan dosa dan kesalahan yang sangat sering kita lakukan. Betapa beruntungnya ummat Islam diajarkan oleh Nabi mereka suatu doa yang sungguh diperlukan.
Ya Allah, limpahkanlah sholawat dan salam kepada Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Amiin ya rabbal ‘aalamiin. 

sumber : eramuslim

Hari raya ‘Idul Fithri adalah hari yang selalu dinanti-nanti kaum muslimin. Tak ada satu pun di antara kaum muslimin yang ingin kehilangan moment berharga tersebut. Apalagi di negeri kita, selain memeriahkan Idul Fithri atau lebaran, tidak sedikit pula yang berangkat mudik ke kampung halaman. Di antara alasan mudik adalah untuk mengunjungi kerabat dan saling bersilaturahmi. Namun ada beberapa hal yang perlu dikritisi saat itu, yaitu beberapa amalan yang keliru dan mungkar. Satu sisi, amalan tersebut hanyalah tradisi yang memang tidak pernah ada dalil pendukung dalam Islam dan ada pula yang termasuk maksiat.
Pertama: Tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir dalam berpakaian. Terutama kita lihat bagaimana model pakaian muda-mudi saat ini ketika hari raya, tidak mencerminkan bahwa mereka muslim ataukah bukan. Sulit membedakan ketika melihat pakaian yang mereka kenakan. Sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[1] Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[2]
Kedua: Mendengarkan dan memainkan musik/nyanyian/nasyid di hari raya. Imam Al Bukhari membawakan dalam Bab “Siapa yang menghalalkan khomr dengan selain namanya” sebuah riwayat dari Abu ‘Amir atau Abu Malik Al Asy’ari telah menceritakan bahwa dia tidak berdusta, lalu beliau menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ ، يَأْتِيهِمْ – يَعْنِى الْفَقِيرَ – لِحَاجَةٍ فَيَقُولُوا ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا . فَيُبَيِّتُهُمُ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ ، وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat.“[3] Jika dikatakan menghalalkan musik, berarti musik itu haram.[4]
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.” Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.” Adh Dhohak mengatakan, “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.”[5]
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.”[6] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun dari empat ulama madzhab yang berselisih pendapat mengenai haramnya alat musik.”[7]
Ketiga: Wanita berhias diri ketika keluar rumah. Padahal seperti ini diharamkan di dalam agama ini berdasarkan firman Allah,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab: 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[8] Seharusnya berhias diri menjadi penampilan istimewa si istri di hadapan suami dan ketika di rumah saja, dan bukan di hadapan khalayak ramai.
Keempat: Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan musibah di tengah kaum muslimin apalagi di hari raya. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirahmati oleh Allah. Perbuatan ini terlarang berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.“[9] Jika kita melihat pada hadits di atas, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau bukan mahrom- diistilahkan dengan zina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaedah ushul ‘apabila sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan tersebut juga haram’.”[10]
Lihat pula bagaimana contoh dari suri tauladan kita sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ مِثْلِ قَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ
“Sesungguhnya aku tidak akan bersalaman dengan wanita. Perkataanku terhadap seratus wanita adalah seperti perkataanku terhadap seorang wanita, atau seperti perkataanku untuk satu wanita.”[11]
Kelima: Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘ied. Kita memang diperintahkan untuk ziarah kubur sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

“Sekarang ziarah kuburlah karena itu akan lebih mengingatkan kematian.”[12] Namun tidaklah tepat diyakini bahwa setelah Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Masalahnya, jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa setelah Ramadhan (saat Idul Fithri) adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.
Keenam: Tidak sedikit dari yang memeriahkan Idul Fithri meninggalkan shalat lima waktu karena sibuk bersilaturahmi. Kaum pria pun tidak memperhatikan shalat berjama’ah di masjid. Demi Allah, sesungguhnya ini adalah salah satu bencana yang amat besar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13]
‘Umar bin Khottob rahimahullah pernah mengatakan di akhir-akhir hidupnya,
لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidaklah disebut muslim orang yang meninggalkan shalat.”[14]
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[15]
Adapun mengenai hukum shalat jama’ah, menurut pendapat yang kuat adalah wajib bagi kaum pria. Di antara yang menunjukkan bahwa shalat jama’ah itu wajib adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka”.[16]
Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan,
وَأَمَّا الجَمَاعَةُ فَلاَ اُرَخِّصُ فِي تَرْكِهَا إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ

“Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.”[17]

Ketujuh: Begadang saat malam ‘Idul Fitri untuk takbiran hingga pagi sehingga kadang tidak mengerjakan shalat shubuh dan shalat ‘ied di pagi harinya. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[18]
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[19]
Takbiran yang dilakukan juga sering mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat padahal hukum mengganggu sesama muslim adalah terlarang. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.”[20] Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[21] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!
Kedelapan: Memeriahkan ‘Idul Fithri dengan petasan. Selain mengganggu kaum muslimin lain sebagaimana dijelaskan di atas, petasan juga adalah suatu bentuk pemborosan. Karena pemborosan kata Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar. Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[22] Allah Ta’ala berfirman,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauhi sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan”. Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.[23]
Akhir kata: “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88)
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Referensi:
[1] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[2] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H, 1/363.
[3] Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/ tegas.
[4] Hadits di atas dinilai shahih oleh banyak ulama, di antaranya adalah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Istiqomah (1/294) dan Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/259). Penilaian senada disampaikan An Nawawi, Ibnu Rajab Al Hambali, Ibnu Hajar dan Asy Syaukani –rahimahumullah-.
[5] Lihat Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, Darul Kutub Al ‘Arobi, cetakan pertama, 1405 H, hal. 289.
[6] Lihat Talbis Iblis, 283.
[7] Majmu’ Al Fatawa, 11/576-577.
[8] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Al Maktab Al Islami, 6/379-380.
[9] HR. Muslim no. 6925
[10] Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Judai, Muassasah Ar Royan, cetakan ketiga, 1425 H, hal. 41.
[11] HR. Malik 2/982. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[12] HR. Muslim no. 976.
[13] HR. An Nasa’i no. 463, Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan Ahmad 5/346. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[14] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, Ibnul Qayyim, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, 1426 H, hal. 41.
[15] Ash Sholah, hal. 7.
[16] HR. Bukhari no. 644 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah.
[17] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107
[18] HR. Bukhari no. 568
[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 3/278.
[20] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40
[21] Syarh Al Bukhari, 1/38.
[22] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 8/474-475.
[23] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474.

Sumber : eramuslim

Seorang pedagang kaya memiliki bayi yang sangat mungil yang mana isterinya meninggal saat melahirkannya, dan dia adalah buah hatinya. Si Tajir (pedagang kaya) ini juga mempunyai seekor tupai yang dia pelihara di dalam rumahnya. Suatu hari Si Tajir ini memiliki urusan dagang yang sangat mendesaknya untuk pergi ke pasar, maka dia meninggalkan anaknya di dalam rumah seorang diri, Si Tajir pergi ke pasar hanya untuk sesaat.Ketika Si Tajir ini kembali dari Pasar dia melihat mulut Tupai(yang dia pelihara) berlumuran darah, ketika melihat darah tersebut maka dia berpikir bahwa Tupai tersebut telah memakan anaknya maka dengan tidak ada penyelidikian terlebih darhulu dari apa yang terjadi, Si Tajir dengan garang mengambil pemukul dan langsung memukul kepala Tupai hingga mati.
Akan tetapi ketika dia masuk ke dalam rumahnya, dia melihat anaknya sehat tanpa ada luka sedikitpun di tubuhnya dan dia juga melihat terdapat Ular Cobra yang mati dan berlumuran darah di samping tubuh anaknya yang mungil. Setelah melihat hal ini maka Si Tajir sangatlah menyesal karena telah membunuh Tupai yang telah menolong anaknya dari bahaya ular Cobra tanpa menyelidiki terlebih dahulu apa yang sedang terjadi.





قال رسول الله (ص): “يا علي, لم يعرف الله الاّ انا و انت, و لم يعرفني الاّ الله و انت, ولم يعرفك الاّ الله و انا
Rasulullah saw bersabda: ” wahai Ali, tidak ada yang mengetahui Allah swt (secara hakiki) kecuali aku dan kamu, dan tidak ada yang mengetahui tentang aku kecuali Allah swt dan kamu, serta tidak ada yang mengetahui tentangmu kecuali Allah swt dan aku.”
Menurut hadis diatas kita ketahui bahwa sungguh mustahil untuk kita mengetahui seberapa besar kedudukan sayidina Ali ra disisi Allah swt dan kedudukan beliau ra disisi Rasulullah saw tanpa bantuan ayat-ayat al-quran dan hadis-hadis Rasulullah saw.
قال الله سبحانه و تعالی: “ولسوف يعطيك ربّك فترضی” 1.
Allah swt berfirman didalam surat al-dhuha ayat 5: “dan sungguh Tuhanmu akan memberimu karuniaNya sampai Kamu puas/ridha.”
Rasulullah saw adalah kekasih Allah swt (habibullah). Beliau saw adalah makhluk Allah swt yang paling sempurna. Dan tidak ada satu makhlukpun yang dapat mencapai derajat kesempurnaan yang telah beliau saw capai. Oleh karenanya Allah swt akan memberi kepadanya karuniaNya sampai beliau merasa puas dan ridha.
Tidak ada satu Nabi pun yang menerima pemberian dari Allah swt sebesar pemberian Allah swt kepada Nabi besar Muhammad saw, karena setiap pemberian Allah swt kepada para Nabi as selain Nabi Muhammad saw memiliki batasan. Akan tetapi pemberian Allah swt kepada Nabi besar Muhammad saw batasannya adalah kepuasan dan keridhaan Beliau saw atau dalam kata lain tidak ada batasan didalam pemberian tersebut.
Lalu apakah pemberian Allah swt terhadap Nabi saw tersebut?
Kalau kita meneliti al-Quran maka kita akan mendapatkan jawaban tersebut. dan jawaban tersebut hanya satu dan itu terdapat didalam surat al-kautsar ayat pertama.
قال الله سبحانه و تعالی : “انّا أعطيناك الكوثر”. “sesungguhnya kami telah memberimu al-Kautsar.”
Ayat di atas menjelaskan tentang pemberian Allah swt , dan itu tidak lain adalah al-Kautsar.
Lalu apakah al-Kautsar tersebut?
Para mufasir al-quran, dan para ahli hadis serta para ahli sejarah menerangkan bahwa al-Kautsar tidak lain adalah Fatimah ra.
Dan kalau kita melihat sejarah hidup sayidatina Fatimah ra, maka kita akan melihat bahwa banyak dari pembesar-pembesar quraish ingin melamar beliau ra, termasuk khalifah pertama dan kedua, akan tetapi Rasulullah saw menolak mereka satu persatu. Akan tetapi ketika sayidina Ali ra melamarnya Rasulullah saw menerimanya bahkan Rasulullah saw bersabda : “sesungguhnya Allah swt telah menyuruhku untuk menikahkan Fatimah dengan Ali.” (المعجم الكبيرللطبرانيكنزالعمالمعجم الزوائدفيض القدير- الصواعق المحرقة)dan juga di buku(ذخائر العقبى)
Maka sungguh benar perkataan cucu Rasulullah saw Abu Abdillah ra:
لولا انّ الله تبارك و تعالی خلق أمير المؤمنين لفاطمة ما كان لها كفو علی وجه الارض
Jikalau Allah swt tidak menciptakan Amirul mu’minin (Ali ibn Abi Talib ra) untuk Fatimah, maka tidak akan ada kufu/pendamping baginya diatas bumi ini.
Fatimah adalah al-Kautsar.
Fatimah adalah pemberian Allah swt tersbesar dan terbaik bagi Nabi Muhammad saw, maka Hanya orang terbaiklah yang dapat memilikinya. Dan dialah Ali ibn Abi Talib ra.
*
قال الله: “مطاع ثم أمين” al-Takwir :21 “yang ditaati lagi dipercaya”.
Ayat diatas menerangkan tingkat kedudukan malaikat jibril, yang mana Jibril as adalah malaikat yang ditaati oleh para malaikat yang lain, dan Jibril as adalah paling mulianya malaikat serta paling agungnya mereka.
Akan tetapi ketika melihat hadis mi’raj kita akan mengetahui seberapa besar kedudukan Nabi saw dibandingkan dengan kedudukan malaikat Jibril as (paling mulianya malaikat).
Didalam hadis mi’raj disebutkan bahwa sesampainya Rasulullah saw dan malaikat Jibril di sidratul muntaha, Jibril as berkata kepada Nabi saw: “wahai Muhammad, pergilah kau (ke derajat berikutnya) sendiri”.
Kemudian Nabi saw berkata kepada Jibril: “wahai saudaraku Jibril, apakah didalam keadaan seperti ini kau akan meninggalkanku sendiri?”
Maka Jibril as berkata: “jika aku julurkan ujung jariku(kederajat selanjutnya) maka aku akan terbakar.”
Malaikat Jibril yang kita ketahui sebagai malaikat yang paling mulia dan paling agung serta dia adalah malaikat yang ditaati oleh malaikat yang lain, akan tetapi ketika sampai di sidratul muntaha beliau as tidak mampu maju dan naik ke derajat yang lebih tinggi, akan tetapi Nabi Muhammad saw maju dan naik ke derajat lebih tinggi. Rasulullah saw adalah makhluk Allah swt yang meraih kedudukan tertinggi disisi Allah swt dan tidak ada orang sebelumnya yang meraih kedudukan tersebut, dan tidak akan ada orang yang akan meraihnya.
Setelah kita melihat kedudukan Nabi saw yang begitu tinggi, marilah kita tengok seberapa besar kedudukan sayidini Ali ra disisi Allah swt dan Nabi saw.
قال رسول الله (ص): “يا علي, لم يعرف الله الاّ انا و انت, و لم يعرفني الاّ الله و انت, ولم يعرفك الاّ الله و انا
Rasulullah saw bersabda: ” wahai Ali, tidak ada yang mengetahui Allah swt (secara hakiki) kecuali aku dan kamu, dan tidak ada yang mengetahui tentang aku kecuali Allah swt dan kamu, serta tidak ada yang mengetahui tentangmu kecuali Allah swt dan aku.”
Sesuai hadis diatas, wajib bagi kita untuk bertanya kepada al-Quran(firman Allah swt) seberapa besar kedudukan sayidina Ali ra disisi Allah swt dan Nabi saw.
Allah swt telah menerangkan kedudukan beliau ra di dalam ayat al-mubahalah
قال الله: “قل ندع ابناءنا و ابناءكم و نساءنا و نساءكم و أنفسنا و أنفسكم
Para ulama ahlu sunnah seperti penulis kitab asbab nuzul, penulis kitab sohih muslim, penulis kitab sohih trimidzi dan para ulama ahlu sunnah lainnya serta para ulama syiah mengatakan bahwa أنفسانا adalah amirul mu’minin Ali ibn Abi Talib ra.
Rasulullah saw juga bersabda : “sesungguhnya Ali adalah dariku dan aku darinya dan dia adalah pemimpin para mu’min setelahku”
(صحيح الترمذيمسند احمد ابن حنبلمسند ابي داودخصائص نسائيكنزالعمالالرياض النضرة)
Jadi sungguh jelas kedudukan beliau ra disisi Allah swt dan Nabi saw. Beliau adalah orang termulia setelah Nabi saw.
*
قال الله سبحانه و تعالى:”ولقد فضّلنا بعض النبيين على بعض
Allah swt berfirman dalam al-Quran: ” Dan sungguh kami telah mengutamakan sebagian para nabi atas sebagian yang lain.”
Kita semua mengetahui bahwa setiap Nabi as adalah ma’sum dan ketaatan kepada seluruh Nabi as adalah kewajiban bagi seluruh umat manusia. Akan tetapi bersamaan dengan itu Allah swt mengutamakan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain.
Seperti halnya kalau kita lihat kita akan menemukan sebagian Nabi bukan ulul azm dan sebagian yang lain adalah ulul azm.
Dan kalau kita tengok keadaan para Imam kita, maka kita akan menemukan hukum diatas juga berlaku diantara mereka as, yakni Allah swt mengutamakan sebagian para Imam atas sebagian yang lain.
Dan hal ini bisa kita lihat dari perkataan Nabi saw dan perkataan Aimmah(para Imam) itu sendiri.
قال رسول الله (ص):” إنّ الحسن و الحسين سيّدا شباب اهل الجنّة و ابوهما خير منهماز
Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya al-Hasan dan al-Husain adalah para pemimpin pemuda surga, dan ayahnya lebih utama dari mereka berdua.”
Hadis ini sungguh jelas menerangkan kedudukan sayidina Ali as dari kedudukan para pemimpin pemuda surga. Kita semua mengetahui bahwa sayidina Ali dan al-Hasan serta al-Husain, mereka semua adalah para Imam kita dan mereka adalah Ahlulbayt Nabi saw. Akan tetapi bersamaan dengan itu Allah swt melaluli lisan Rasulullah saw mengutamakan Sayidina Ali dari al-Hasan dan al-Husain.
Sekarang mari kita lihat apa perkataan para Imam as tentang kedudukan amirul mu’minin as.
سؤل الباقر(ع):” يابن رسول الله من منكم كأمير المؤمنين في عبادته؟
قال(ع):”من منّا كأمير المؤمنين في عبادته؟” ” قل من منّا يشبه أمير المؤمنين في عبادته! ولا فينا احد إلاّ ابيّ السجّاد كان يشبه جدّي أمير المؤمنين.”
Imam Bagir as pernah ditanya: “wahai putra Rasulullah, siapakah dari kalian (aimmah/para imam as) yang sama seperti Amirul mu’minin dalam ibadahnya?” setelah mendengar pertanyaan ini beliau as menjawab : “siapa dari kami yang sama seperti Amirul mu’minin dalam ibadahnya?” kemudian Beliau as melanjutkan perkataannya “bertanyalah siapa dari kami yang menyerupai Amirul Mu’minin dalam ibadahnya! Dan tidak ada dari kami satupun yang menyerupai Amirul mu’minin as dalam ibadahnya kecuali ayahku as-Sajjad dialah yang menyerupai kakekku Amirul mu’minin as dalam ibadahnya.”
Riwayat diatas menerangkan bahwa hanya Imam as-Sajjad lah yang menyerupai Amirul Mu’minin dalam ibadahnya.
Lalu seberapa besarkah keserupaan yang ada diantara ibadah As-Sajjad as dengan ibadah Amirul mu’minin as?
Sebelum menjawab pertanyaan ini marilah kita lihat sekilas tentang as-Sajjad as.
Imam as-Sajjad as memiliki panggilan As-Sajjad tak lain dikarenakan banyaknya sujud dan banyaknya ibadah yang Beliau as lakukan. Dan dalam riwayat yang masyhur disebutkan bahwa Imam as-Sajjad dalam sehari semalam mengerjakan solat seribu rekaat. Dan kemasyhuran beliau as dalam ibadah tercatat dalam kitab-kitab ahlu sunnah juga.
Sekarang ini ketika kita sudah mengetahui betapa besar ibadah yang dilakukan oleh Imam as-Sajjad, maka marilah kita lihat seberapa besar keserupaan yang ada diantara ibadah beliau as dan ibadah kakeknya Amirul mu’minin as.
Didalam riwayat disebutkan bahwa
سؤل السّجّاد:”يابن رسول الله اين عبادتك من عبادة اميرالمؤمنين؟
قال (ع):”و الله, كالقطر في بحر المحيط
Imam sajjad as pernah diatanya : “wahai putra Rasulullah, dimanakah ibadahmu darai ibadah kakekmu Amirul mu’minin Ali Ibn Abi Talib?(yakni seberapa keserupaan yang ada di antara ibadah as-Sajjad dan ibadah Amirul mu’minin as).”
Imam Sajjad as menjawab: ” demi Allah, seperti satu tetes air didalam lautan samudera.”
Imam Ja’far as pernah berkata: “اعلم انّ أميرالمؤمنين أفضل عند الله من الأئمة كلّهم وله ثواب أعمالهم” “ketahuilah sesungguhnya Amirul mu’minin lebih utama disisi Allah swt dari para Imam seluruhnya, dan dia memiliki pahala seperti pahala mereka/para Imam seluruhnya.”
Mungkin banyak orang yang heran atas kedudukan beliau as yang sangat tinggi.
Akan tetapi, hal ini sudah dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam perang khandaq.
قال رسول الله (ص):”ضربة علي لعمرو يوم الخندق تعدل عبادة الثقلين” Rasulullah saw bersabda: ” pukulan Ali kepada Amr diperang khandaq sama seperti ibadah seluruh makhluk.”
Dari sini kita bisa mengetahui bahwa tidak ada orang yang bisa menyamai kedudukan Amirul mu’minin as (tentu saja selain Rasululla saw, karena Sayidina Ali pernah berkata bahwa dirinya adalah salah satu dari budak-budak Muhammad saw. Jadi derajat Rasulullah saw sangat jauh diatas derajat sayidina Ali as.)
Kita semua tahu bahwa pukulan beliau as hanya 2 atau 3 detik dari umurnya. Kalau 3detik dari umur beliau sudah menyamai ibadah seluruh makhluk, bagaimana dengan ibadah-ibadah beliau yang lain. lalu seberapa besarkah keseluruhan ibadah beliau dalam seluruh umurnya. Maka tidak ada satu orangpun yang tahu kecuali Allah swt dan RasulNya saw. Sungguh hal ini sesuai dengan perkataan Rasulullah saw ini:
قال رسول الله (ص): “يا علي, لم يعرف الله الاّ انا و انت, و لم يعرفني الاّ الله و انت, ولم يعرفك الاّ الله و انا
Rasulullah saw bersabda: ” wahai Ali, tidak ada yang mengetahui Allah swt (secara hakiki) kecuali aku dan kamu, dan tidak ada yang mengetahui tentang aku kecuali Allah swt dan kamu, serta tidak ada yang mengetahui tentangmu kecuali Allah swt dan aku.”
Dan Rasulullah saw juga bersabda: “إنّ الله جعل لأخي علي بن ابي طالب فضائل لا يحصي عددها غيره…” “sesungguhnya Allah swt telah memberikan kepada saudaraku Ali ibn Abi Talib keutamaan-keutamaan yang tidak ada yang bisa menghitung jumlahnya kecuali dia sendiri…..”
Insyallah hari demi hari kita mendapatkan rizki untuk bisa mengetehaui keutamaan-keutamaan beliau as dan mendapatkan syafaatnya kelak di hari akhir…..
Amiiiin..........!
Powered by Blogger.