Halloween party ideas 2015
Showing posts with label Hidayah. Show all posts





Assalamu `alaikum. Nama saya Mathew. Saya dari Prancis, saya berumur 22 tahun. Saya lahir di Timur Utara Perancis, dekat dengan Belgia. Sejak usia 13, saya pindah ke Pantai Barat Selatan. Dan sekarang saya sedang belajar di universitas, tingkat 4. Saya sedang menyelesaikan master administrasi bisnis. Saat ini saya terlibat dalam studi di Victoria University of Wellington berkat kesepakatan antara universitas saya dan universitas di Selandia Baru. Saya akan belajar saya di sini, dan di masa depan, saya ingin terlibat dalam bisnis internasional.Ayah saya tidak percaya pada Tuhan, dan ibu saya adalah seorang Katolik tapi dia tidak pernah pergi ke gereja. Jadi saya tidak menerima ajaran-ajaran tentang agama di awal pertumbuhan saya.

Bagaimana Saya Tahu Tentang Islam

Ajaran pertama tentang agama Islam saya dapatkan dari teman-teman saya dari Maroko, Turki, Aljazair dan Tunisia. Untungnya, saya tinggal di tempat di mana begitu banyak imigran tinggal. Saya adalah satu-satunya orang Prancis dalam kelompok itu. Kami sering melakukan kegiatan olahraga bersama-sama.
Pada awalnya, teman-teman saya yanag Muslim hanya berbicara tentang Islam di antara mereka saja. Kemudian mulailah saya diundang ke masjid, dan saya datang. Sejak saat itu, saya mulai banyak bertanya kepada orang-orang tentang Islam.

Saya sangat tertarik karena saya tidak tahu apa-apa. Saya merasa heran ketika melihat orang-orang berpuasa dan tidak makan apapun di siang hari selama satu bulan penuh. Saya bertanya-tanya bagaimana mereka dapat melakukan hal itu. Dan yang lebih menakjubkan adalah manifestasi yang berbeda tentang Islam setelah Ramadan, seperti Idul Fitri dan segala sesuatu seperti itu. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar tentang agama ini.

Keluarga & Teman

Saya masih sangat muda ketika saya menyatakan ingin masuk Islam. Orang tua saya terkejut namun mereka tidak menentangnya. Mereka tetap menganggap saya sebagai anak mereka hingga mereka ingin membantu saya sebisa mungkin. Dan mereka tidak ingin mengecewakan saya. Mereka menganggap saya sebagai bagian dari keluarga mereka. Jadi itu sangat melegakan saya.

Untungnya orang tua saya, jika saya dibandingkan dengan orang lain yang mencoba masuk Islam, memiliki banyak masalah dengan keluarga mereka, sehingga orang tua saya tidak terlalu sulit. Mereka membiarkan saya memilih apa yang ingin saya lakukan. Pada saat yang sama, mereka ingin saya untuk tinggal di tempat yang aman dan masjid, menurut mereka masjid adalah tempat itu, karena di masjid saya tidak lagi menghina orang di jalanan, mencuri atau berkelahi. Jadi mereka lebih suka saya tinggal di masjid daripada berada di jalanan.

Apa yang Islam Berikan

Saya berpikir bahwa Islam adalah jenis obat untuk semua orang,  Saya berpikir bahwa Islam adalah hal yang sangat baik bagi saya. Islam mengajari saya untuk menghormati orang lain, cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan pada umumnya, karena Islam juga mendorong untuk selalu belajar dan memperoleh pengetahuan.
Sayangnya teman-teman saya tidak tertarik untuk terlibat dalam Islam, dan mereka akhirnya mulai kecanduan narkoba, atau mulai minum alkohol, hubungan seks sebelum menikah. Saya merasa beruntung saya berhasil menemukan Islam dan membantu saya dalam kehidupan sehari-hari saya.

Saya berpikir bahwa Islam adalah jenis obat untuk orang yang membutuhkan. Misalnya, orang dalam penjara yang menemukan Islam dan mereka berhasil menjadi orang-orang yang sangat baik. Contoh lain adalah orang-orang yang kecanduan obat-obatan atau alkohol, mereka tidak berhasil menemukan apa pun untuk membantu mereka, dan ketika mereka menemukan Islam mereka menjadi sangat tertolong. Islam adalah obat yang sangat baik dan Allah adalah dokter yang paling indah. Anda dapat selalu menemukan-Nya untuk merawat Anda. Jika Anda berhasil menemukan-Nya, Dia akan banyak membantu Anda.

Mengingat bahwa saya menjadi Muslim beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah punya masalah menjadi seorang Prancis dan seorang Muslim. Tapi itu benar bahwa di Eropa saat ini orang mulai takut kalau Islam akan menyebar cepat di Eropa, dan benar pula adanya bahwa banyak orang Eropa mencoba untuk masuk Islam.


 [sa/islampos/onislam]

 
 
Suatu ketika terjadi perselisihan dan menyebabkan saling menjauhi antara Muhammad al-Hanafiyyah dengan kakaknya, Hasan bin Ali. Kemudian Muhammad bin al-Hanafiyyah menulis surat kepada Hasan sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah memberikan keutaman kepada Anda melebihi diriku. Ibumu adalah Fathimah bin Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ibuku adalah seorang wanita dari Bani Hanifah. Kakekmu dari jalur ibu adalah Rasulullah pilihan-Nya, sedang kakekku dari jalur ibu adalah Ja’far bin Qais. Jika suratku ini sampai kepada Anda, saya berharap Anda berkenan datang kemari dan berdamai, agar Anda tetap lebih utama dariku dalam segala hal…” sesampainya surat tersebut, Hasan bergegas mendatangi rumahnya untuk menjalin perdamaian.

Siapakah gerangan pemuda yang santun, cerdas, dan bijak yang bernama Muhammad al-Hanafiyyah ini?”Marilah kita ikuti perjalanan hidupnya dari awal.

Kita awali kisah ini dari detik-detik akhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Suatu hari, Ali bin Abi Thalib duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya saya punya anak lagi setelah Anda tiada, bolehkah saya memberi nama anakku dengan nama Anda dan saya berikan kunyah (julukan) dengan kunyah Anda (yakni Abu al-Qasim)?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Boleh.”

Waktu bergulir, hingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan beberapa bulan kemudian disusul putrinya, Fatimah yang merupakan ibunda Hasan dan Husein. Setelah itu Ali bin Abi Thalib menikah lagi dengan seorang wanita dari Bani Hanifah bernama Khaulah binti Ja’far bin Qais al-Hanafiyyah.

Perkawinan ini melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad dan diberi julukan Abu al-Qasim dengan restu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsebelumnya. Namun demikian orang-orang biasa memanggilnya dengan nama Muhammad al-Hanafiyyah untuk membedakannya dari kedua saudaranya, Hasan dan Husein. Ibu keduanya adalah Fathimah az-Zahra.Sedangkan ibu beliau wanita dari al-Hanafiyah. Kemudian nama itulah yang banyak dikenal oleh sejarah.

Muhammad al-Hanafiyyah lahir di akhir masa khalifah Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau tumbuh dan dibesarkan di bawah bimbingan ayahandanya, Ali bin Abi Thalib. Dari ayahnya itu dia mewarisi ketekunan ibadahnya, sifat zuhud, keberanian dan kekuatannya di samping kefasihan lidahnya.

Siang hari, beliau menjadi pahlawan di medan perang dan menjadi tokoh dalam jajaran para ulama. Di malam hari beliau adalah rahib di saat mata manusia tidur terlelap.

Ayah beliau radhiyallahu ‘anhu telah menggemblengnya di tengah kancah peperangan yang diikutinya. Dipikulkan kepadanya beban-beban berat yang tidak pernah dipikulkan kepada kedua saduaranya, Hasan dan Husein.Dengan demikian dia tak pernah malas atau lemah semangatnya.

Beliau pernah ditanya, “Mengapa Anda selalu diterjunkan di medan-medan yang berbahaya dan memikul beban melebihi kedua kakakmu, Hasan dan Husein?”Dengan tawadhu beliau, “Sebab, kedua kakakku ibarat kedua mata ayahmu, sedangkan kedudukanku adalah ibarat kedua tangannya.Maka ayah menjaga kedua matanya dengan kedua tangannya.”

Ketika terjadi perang Shiffin yang meletus antara kelompok Ali Abi Thalib dengan kelompok Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Muhammad al-Hanafiyyah memegang panji-panji ayahnya.

Tatkala perang berkobar, korban berjatuhan dari kedua pihak.Terjadilah suatu peristiwa yang kemudian diriwayatkn sendiri olehnya. Beliau menuturkan kejadiannya:

“Ketika berada di Shiffin kami bertempur melawan sahabat sendiri, Muawiyah. Kami saling bunuh, hingga kami menduga tidak akan ada lagi yang tersisa dari kami ataupun mereka. Aku menjadi sedih dan gelisah karenanya.

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari belakangku: “Wahai saudara-saudara muslimin… ingat Allah… Allah… Wahai saudara-saudara muslimin.. Allah… Allah, sisakan orang-orang kalian, wahai saudara-saudara muslimin..!

Seketika itu aku tersadar dan berjanji tidak akan mengangkat dan menghunus senjata lagi melawan seorang muslim pun sejak hari itu..”

Pada gilirannya, Ali syahid di tangan orang-orang yang zhalim dan durhaka dan khilafah pun jatuh ke tangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan..Bahkan Mu’awiyah meminta Muhammad al-Hanafiyyah agar sering-sering mengunjunginya.Beberapa kali Muhammad berkunjung ke Damaskus untuk menjumpai Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu.

Sebagai contoh, ketika suatu hari Kaisar Romawi menulis surat kepada Mu’awiyah yang antara lain berisi:

“Raja-raja dari kalangan kami memiliki kebiasaan melakukan surat-menyurat dan saling mengirimkan hal-hal menakjubkan yang dimiliki masing-masing.Lalu kami saling berlomba dengan hal-hal yang menakjubkan yang kami miliki.Berkenankah Anda mengizinkan kami melakukan hal yang sama seperti kebiasaan yang berlaku di antara kami?”

Mu’awiyah menyetujui tawaran tersebut dan memberikan izin.Setelah itu kaisar Romawi mengirimkan dua orang lelaki yang berpenampilan menakjubkan. Yang satu luar biasa tingginya dan besar perawakannya seakan ia adalah pohon besar menjulang di tengah hutan, atau suatu bangunan yang besar. Yang satunya lagi kuatnya luar biasa dan ototnya kuat bagaikan binatang buas. Kedatangan keduanya disertai sepucuk surat berbunyi: “Adakah orang yang menyamai kebesaran dan kekuatan kedua orang ini di negeri Anda?”

Mu’awiyah bermusyawarah dengan Amru bin Ash,

Mu’awiyah: “Untuk orang yang tinggi besar itu aku sudah menemukan tandingannya, bahkan melampauinya yaitu Qais bin Sa’ad bin Ubadah. Tetapi untuk menandingi orang yang kuat itu aku meminta pertimbanganmu.

Amru bin Ash: “Ada dua orang yang cocok, hanya saja keduanya jauh dari Anda, mereka adalah Muhammmad al-Hanafiyyah dan Abdullah bin Zubair.”

Mu’awiyah: “Bukankah Muhammad al-Hanafiyyah tidak jauh dari kita?”

Amru: “Tapi apakah menurut Anda dengan kedudukannya yang mulia itu, beliau bersedia diadu dengan si romawi di depan khalayak ramai?”

Mu’awiyah: “Beliau pasti bersedia, bahkan lebih dari itu selagi beliau melihat ada kebaikan di dalamnya dan Islam semakin nampak berwibawa.”

Kemudian Mu’awiyah memanggil Qais bin Sa’id bin Sa’ad dan Muhammad al-Hanafiyyah.

Gelanggang dibuka, untuk mengetahui siapa yang lebih tinggi, Qias bin Sa’ad membuka celana luarnya dan dilemparkannya kepada orang-orang Romawi sambil menyuruh untuk memakainya.Ketika dipakai ternyata menutup sampai ke dadanya sehingga orang-orang pun tertawa geli melihatnya.

Giliran Muhammad al-Hanafiyyah, dia berkata kepada penerjemah: “Katakan kepada orang Romawi ini, dia boleh memilih, dia duduk dan aku berdiri, lalu dia harus bisa membuat aku duduk atau aku yang membuat dia berdiri. Boleh juga kalau dia memilih berdiri dan aku duduk..”Orang Romawi itu lebih memilih duduk.

Kemudian Muhammad al-Hanafiyyah memegang tangan si Romawi sampai rasanya nyaris putus dari pundaknya dan akhirnya dia terduduk di atas tanah.

Akhirnya, kedua orang dari negeri seberang itu pun pulang ke negerinya dengan membawa kekalahan dan kehinaan.

Hari demi hari berganti, hingga Mu’awiyah dan putranya, Yazid serta Marwan bin Hakam wafat. Khilafah jatuh ke tangan Abdul Malik bin Marwan dari tangan Bani Umayah. Khalifah baru ini dibai’atkan oleh muslimin penduduk Syam. Namun penduduk Hijaz dan Irak lebih memilih berbai’at kepada Abdullah bin Zubair.

Keduanya menyerukan kepada rakyat agar berbai’at kepadanya.Masing-masing mengaku dirinyalah yang lebih patut menjadi khalifah daripada lawannya.Sehingga kaum muslimin pecah lagi menjadi dua kelompok.

Ketika itu, Abdullah bin Zubair meminta kepada Muhammad al-Hanafiyyah agar melakukan bai’at beserta segenap penduduk Hijaz. Namun Muhammad mengetahui bahwa bai’at akan menjadikan dia terikat kepada yang dibai’at. Dia harus selalu membantunya, termasuk menghunus pedang terhadap siapa saja yang menentangnya. Padahal yang menentangnya adalah sesama muslimin yang memilih  untuk berbai’at kepada pihak lain.

Masih terngiang dalam ingatan Muhammad al-Hanafiyyah ketika peristiwa Shiffin.Bertahun telah dilalui, namun dia tak mampu menepis suara yang lantang dan mengharukan itu. Terngiang-ngiang seruannya: “Wahai kaum muslimin..wahai saudara-saudara muslimin… ingatlah Allah.. Allah..wahai saudara-saudara muslimin..! Untuk siapa lagi wanita dan anak-anak kita?Siapa yang akan membela agama dan kehormatan kita dari Romawi dan orang-orang Dailam?”Beliau benar-benar tak mampu melupakan hal itu. Beliau berkata kepada Abdullah bin Zubair: “Engkau tahu benar bahwa aku tidak ingin melakukan hal itu. Kedudukanku hanyalah sebagai seorang muslim. Bila seluruh muslimin telah bersepakat atas salah satu dari kalian, maka aku tidak keberatan untuk berbai’at kepada engkau maupun dia. Untuk sementara saya belum ingin berbai’at baik kepadamu maupun kepadanya.”

Namun Abdullah bin Zubair terus berusaha membujuknya. Terkadang dengan halus dan sebentar dengan kasar.Dalam waktu yang tak terlalu lama banyak orang yang bergabung dengan Muhammad al-Hanafiyyah karena sependapat dengannya.Mereka menyerahkan kepemimpinan kepada Muhammad, jumlah mereka mencapai tujuh ribu orang. Mereka lebih mengutamakan menjauhi fitnah dan ingin menjauhkan diri dari api neraka. Semakin bertambah pengikut Ibnu al-Hanafiyyah, makin marahlah Abdullah bin Zubair dan makin keras memaksa untuk berbai’at kepadanya.

Setelah merasa gagal menundukkan Bani Hasyim dan pengikutnya, Ibnu Zubair melarang mereka keluar dari Mekah dan dia memerintahkan pengawasnya untuk menjaga mereka.

Ibnu Zubair berkata kepada mereka: “Demi Allah, kalian harus berbai’at atau kami akan membakar kalian “Dia mengurung muslimin di rumah-rumah mereka dan menata kayu-kayu bakar di sekelilingnya sampai sama tinggi dengan dinding-dinding rumah. Seandainya disulut sebatang kayu saja akan terbakarlah semuanya.

Dalam kondisi demikian, beberapa orang dari pengikut Ibnu al-Hanafiyyah berkata,”Izinkanlah kami untuk membunuh Ibnu Zubair dan membebaskan orang-orang dari tekanannya.”

Tetapi Muhammad bin Ali Al-Hanfiyyah melarang mereka sembari berkata, “Apakah kita akan menyalakan api fitnah padahal kita menjauhkan diri darinya, lalu membunuh salah satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdan putra-putranya?! Tidak.Demi Allah kita akan melakukan sesuatu yang dimurkai Allah dan rasul-Nya jika demikian.”

Berita tentang tekanan Abdullah bin Zubair terhadap Muhammad al-Hanafiyyah dan sahabat-sahabatnya sampai ke telinga Abdul Malik bin Marwan. Kondisi tersebut dianggapnya sebagai peluang yang bagus untuk menarik simpati mereka agar mau bergabung di pihaknya.

Dia mengirim surat melalui utusan yang seandainya dia mengirim surat kepada salah satu putranya pun tentu tidak lebih lembut dan halus daripada itu. Di antara isi surat tersebut adalah sebagai berikut:

“Telah sampai berita kepada kami bahwa Ibnu Zubair telah menekan Anda beserta pengikut-pengikut Anda dan tidak lagi menghargai hak-hak Anda.Oleh karena itu, negeri Syam terbuka bagi Anda semua.Kami menyambut kedatangan Anda dengan dada dan tangan terbuka.Anda boleh tinggal di bagian mana saja yang Anda kehendaki sebagai sesama keluarga dan tetangga yang terhormat. Dan Anda semua akan mendapati kami sebagai orang-orang yang tahu menjaga hak, tidak melupakan kebijaksanaan, dan menghubungkan silaturahmi dengan baik, insyaAllah..”

Muhammad al-Hanafiyyah beserta pengikutnya berangkat menuju Syam. Mereka kemudian menetap di kota Ailah. Para penduduk di kota itu menyambut mereka dengan hangat dan menjadi tetangga yang baik. Mereka menyayangi dan menghormati Muhammad al-Hanafiyyah setelah melihat ketekunannya dalam ibadah dan kezuhudannya terhadap duniawi.Dia senantiasa menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar. Menegakkan syi’ar Islam, mendamaikan segala pertentangan di antara mereka dan tidak membiarkan seorang pun menzhalimi orang lain.

Berita tentang keadaannya sampai ke telinga khalifah Abdul Malik.Dia pun bingung dalam menentukan sikap.Dia mengumpulkan para pejabatnya untuk bermusyawarah, lalu mereka berkata, “Tidak layak Anda mengizinkan dia berada dalam kekuasan Anda sedangkan dia sebagaimana Anda ketahui.Sebaiknya Anda tawarkan kepadanya untuk berbai’at kepada Anda atau kembali ke tempat asalnya.”

Keputusan diambil, Abdul Malik menulis surat kepada Muhammad al-Hanafiyyah sebagai berikut: “Anda menetap di daerah kami, sedangkan pertikaian masih berlangsung antara saya dan Abdullah bin Zubair. Anda adalah seorang yang terpandang di kalangan kaum muslimin.Oleh sebab itu, saya memandang perlunya Anda berbia’at kepada saya, apabila Anda ingin tinggal dalam wilayah kekuasaan saya.Bila Anda berbai’at, kebetulan ada seratus kapal yang baru tiba dari Kulzam, semuanya saya serahkan kepada Anda. Lalu ada tambahan lagi sebesar seratus juta dirham dan semua kebutuhan Anda beserta sanak keluarga akan selalu kami cukupi. Tetapi apabila Anda menolak, sebaiknya Anda segera keluar dari wilayah kekuasaan.”

Setelah menerima dan membaca surat tersebut, Muhammad al-Hanafiyyah menjawab:

“Dari Muhammad al-Hanafiyyah kepada Abdul Malik bin Marwan.”

Keselamatan semoga tercurah atas Anda setelah bertahmid kepada Allah yang tiada Ilah yang haq selain Dia. Saya mengira Anda takut dan khawatir terhadap saya, sedangkan Anda sudah tahu sikap dan pendirian saya dalam persoalan ini. Demi Allah, seandainya seluruh umat ini berkumpul kecuali satu kelompok dari satu desa saja, saya tetap menerimanya dan tidak memeranginya. Saya telah datang ke Mekah kemudian Abdullah bin Zubair meminta agar saya membai’at kepadanya. Ketika saya menolak, dia menganiaya saya. Kemudian Anda menulis surat kepada saya dan menawarkan untuk tinggal di daerah Syam. Saya memilih tinggal di suatu kota di tepian wilayah Anda karena biaya hidup lebih murah, lagi pula jauh dari wilayah kekuasaan Anda. Sekarang Anda menulis surat kepada saya disertai ancaman, maka kami memilih pergi dari Anda, InsyaAllah.”

Akhirnya, Muhammad al-Hanafiyyah bersama seluruh keluarga dan pengikutnya keluar dari Syam.Namun setiap kali hendak menetap di suatu tempat, mereka selalu diganggu dan diusir.

Belum cukup penderitaannya, Allah Subhanahu wa Ta’alamasih mengujinya dengan kesulitan lain yang lebih keras dan berat. Di antara pengikutnya, muncul orang-orang yang berhati cacat dan hilang akal sehatnya sehingga mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammeninggalkan pada diri Ali dan keturunannya rahasia-rahasia ilmu, tatanan agama dan pusaka-pusaka syariat. Itu semua dikhususkan bagi keluarga Muhammad al-Hanafiyyah yang tak diketahui oleh orang lain.

Laki-laki yang berilmu dan cerdas ini paham tentang apa yang ada di balik kata-kata sesat tersebut, yang mungkin akan menyeret Islam dan kaum muslimin ke dalam bahaya besar. Beliau mengumpulkan orang-orang kemudian berbicara untuk menjernihkan masalah. Setelah mengucapkan tahmid kepada Allah dan shalawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata, “Ada beberapa orang yang menganggap kami sekeluarga memiliki ilmu yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus bagi kami, yang tidak diketahui oleh orang lain. Maka Kami tegaskan, demi AllahSubhanahu wa Ta’ala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mewariskan kecuali yang ada di antara dua lauh (papan/cover)…” sambil menunjuk kepada Mushaf. “Barangsiapa menganggap kami membaca selain Kitabullah, maka dia berdusta.”

Ketika sebagian dari pengikutnya memberi salam, “Assalamu’alaika, wahai Mahdi (pemberi petunjuk)”, maka beliau menjawab, “Benar, aku adalah pemberi petunjuk kepada kebaikan dan kalian insya Allah mendapatkan hidayah dan menjadi manusia-manusia yang mendapat hidayah. Tetapi jika kalian memberi salam kepadaku, cukuplah menyebutkan namaku dan katakan, “Assalamu’alaika, wahai Muhammad.’

Tidak lama ketika rasa bingung menggelayuti pikiran Muhammad al-Hanafiyyah dan beberapa pengikutnya di tempat mereka tinggal, atas kehandak Allah Subhanahu wa Ta’ala, Hajjaj bin Yusuf berhasil membunuh Abdullah bin Zubair, kemudian semua orang berbai’at kepada Abdul Malik bin Marwan.

Maka tak ada lagi pilihan lain bagi Muhammad al-Hanafiyyah kecuali menulis surat kepada Abdul Malik:

“Kepada hamba Allah Abdul Malik bin Marwan, Amirul Mukminin, dari Muhammad bin Ali. Setelah mengikuti perkembangan, saya melihat bahwa kekuasaan sudah kembali ke tangan Anda.Orang-orang sudah berbai’at kepada Anda melalui wali Anda di Hijaz.Saya kirimkan pernyataan tertulis ini kepada Anda.Wassalam.’

Sesampainya surat itu, Abdul Malik membacakan di hadapan sahabat-sahabatnya, mereka berkata, “Seandainya beliau ingin mengganggu dan menimbulkan keonaran di antara muslimin, dia mampu melakukannya dan engkau tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh sebab itu, tulislah jawaban untuknya agar dia berjanji dan bersumpah untuk menjaga ketenteraman atas nama AllahSubhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya agar tidak timbul kekacauan karena kekuatan dan banyaknya pengikut beliau.”

Maka, Abdul Malik bin Marwan pun menulis surat jawaban untuk Ibnu al-Hanafiyyah dan memerintahkan kepada walinya, Hajjaj bin Yusuf, agar senantiasa menghormati, menjaga kedudukannya, dan berbuat baik kepada Muhammad.

Namun sayang, usia Muhammad al-Hanafiyyah tidak begitu panjang. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilihnya untuk kembali ke sisi-Nya dengan ridha dan penuh keridhaan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Muhammad al-Hanafiyyah yang tidak menginginkan perpecahan umat terjadi di muka bumi dan tidak pula gila jabatan dan kehormatan.

Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

Artikel www.KisahMuslim.com


ALEXANDER Pertz, bocah Amerika yang dilahirkan dari keluarga Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal, ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya sendiri jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat.

Begitu dia bisa membaca dan menulis, maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu ia rasakan tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ‘Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, “Apakah engkau seorang yang hafal Al-Quran?”

Wartawan itu berkata “Tidak.” Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
Anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, “Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”

Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, “Apa yang membuatmu tertarik pada Islam? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, “Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku.”
Wartawan itu bertanya kembali, “Apakah engkau telah bisa melakukan shaum di bulan Ramadhan?”

Muhammad tersenyum sambil menjawab, “Ya, aku telah melakukannya di bulan Ramadhan tahun lalu dengan sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku shaum. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama.” Kemudian dia meneruskan, “Ayah menakutiku dan berkata bahwa aku tidak akan mampu melakukan ibadah ini, akan tetapi aku tetap shaum dan tidak mempercayai hal tersebut.”
“Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan tersebut. Dengan cepat Muhammad menjawab, “Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad.”
“Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji sangatlah besar. Adakah penyebab hal tersebut?” tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata “Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain.”

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ‘Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Allah telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, “Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap pekannya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, “Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
“Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan. “Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad.

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

Muhammad berkata, “Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
“Apakah engkau mempunyai cita-cita lain?” tanya wartawan lagi. Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam?” tanya wartawan. Maka dia menjawab dengan meyakinkan, “Tentu.”
“Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan? Bagaimana engkau menghindari daging babi?”

Muhammad menjawab, “Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya? Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
“Apakah engkau sholat di sekolahan?” tanya wartawan itu lagi. “Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan tempat shalat setiap hari,” jawab Muhammad.

Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu mengumandangkan adzan.


 [hf/islampos/atjehcyber]


TANGERANG SELATAN -- Abdul Aziz Laia, sosok pria sederhana yang berusia 32 tahun telah memeluk agama Islam sejak tahun 2012 silam. Bang Aziz, sebutan akrab yang disematkan kepada beliau oleh para santri pesantren Pembinaan Mu'allaf Yayasan-An Naba' Center, kini sedang menekuni studinya di dua universitas yang berbeda, yakni Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah (STAI Al-Hikmah) adalah dua lembaga pendidikan yang dipilih untuk meningkatkan pengetahuan  keislaman pada dirinya.

Aziz, dalam sebuah kesempatan menceritakan bagaimana awal mula ketertarikannya dengan agama Islam. Berawal dari bangku sekolah menengah pertama, Aziz dididik oleh seorang guru perempuan yang menurutnya sangat baik. Guru tersebut mengenakan kerudung dengan pakaian yang  menutup aurat hingga kakinya.

Bagi Aziz, ini adalah sesuatu yang berbeda dengan penampilan guru lain yang menganut agama sama dengannya. Tutur katanya yang lembut, sopan dan santun, baik kepada siswa dan orang lain, sehingga memberikan rasa kekaguman tersendiri bagi Aziz. "Saya belum pernah menemukan orang seperti itu sebelumnya saat saya menempuh studi di sekolah dasar", tuturnya seperti dilansir Annaba-Center, Rabu (11/2).

Lianus Laia, nama sebelum ia mengucapkan syahadat, mengaku ada rasa ingin tahu yang mendalam tentang Islam ketika ia mulai masuk ke sekolah tingkat atas. Aziz yang dibesarkan di lingkungan Kristen tersebut semakin tertarik kepada Islam ketika ia mendengarkan tilawah Alquran yang diputar melalui pemutar kaset yang ada di masjid sekitar tempat tinggalnya.

"Karena Islam di daerah tempat tinggal saya sangat minoritas, saya jarang mendengarkan lantunan ayat-ayat Alquran. Namun, setelah saya hijrah ke Kota Medan, saya sering mendengarkan lantunan ayat-ayat tersebut", tambahnya.

Surat Maryam merupakan surat yang sering ia dengar saat pihak pengurus masjid memutar rekaman kaset tersebut. Ini adalah keistimewaan baginya, sehingga menimbulkan pertanyaan yang mendalam, ternyata Islam juga membicarakan mengenai nabi, dan mengapa Islam membicarakannya?

Aziz mengungkap, rasa ingin tahu tersebut semakin meninggi ketika ia merasakan kegalauan yang lebih dalam saat ia mendengar rekaman tartil Alquran lengkap dengan terjemahannya dikumandangkan setiap menjelang Maghrib. Al-Anbiyaa' dan Maryam adalah dua surah yang paling sering diputar kala itu.

"Aku sangat terheran-heran kala itu. Nabi-nabi yang disebutkan dalam Alquran sama persis dengan nabi-nabi yang pernah agama lama saya  pelajari," kata Aziz.

Perlahan Aziz mulai mendengarkan khutbah Jumat yang sering dilakukan ketika umat Muslim melakukan shalat Jumat. Berangkat dari situ, rasa ingin tahu semakin kuat, seakan berbanding lurus, kegiatan yang selama ini ia lakukan di agama lamanya juga semakin jarang ia ikuti. Ditambah lagi, ketika ia melihat tata cara wudhu yang dilakukan oleh umat Muslim yang hendak melakukan salat,

"Itu seperti baptis dalam ajaran kami. Aku merasa Islam dekat dengan berbagai hal yang pernah kuketahui sebelumnya tentang agamaku", tambahnya. Meski Aziz belum mengucapkan kalimat syahadat kala itu, namun ia sudah aktif dalam kegiatan remaja masjid di masjid setempat, tak jarang pula ia mengikuti amalan-amalan umat muslim, seperti puasa dan lainnya.

Entah apa yang mendorong Aziz untuk berbuat demikian. Pria kelahiran 25 Oktober 1980 ini seperti larut dalam arah hidayah Allah SWT. Setelah menyelesaikan studi tingkat kejuruannya, ia pergi merantau ke Riau dan bekerja selama lebih dari dua tahun. Dalam perantauannya, ia semakin dekat dan giat mendalami agama Islam.

Rasa ingin tahu yang ia miliki mengantarkannya pada keinginan untuk membandingkan antara Islam dengan agama lamanya. Mulailah muncul keraguan dalam keyakinan Aziz terhadap agama lamanya. "Perayaan hari keagamaan mengapa harus dirayakan dengan mabuk-mabukan? Dan apakah itu tidak menimbulkan dosa? Lalu sedemikian mudahkan menebus dosa tersebut?" Pungkasnya.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah menganai Nabi Muhammad SAW. dan bagaimana posisi Nabi Isa dan Maryam dalam Islam. "Aku bertanya tentang siapa Muhammad, bagaimana posisi Isa dan Maryam dalam Islam, dan mengapa babi haram dimakan", mulai pada pertanyaan yang ia anggap sebagai pertanyaan yang memerlukan jawaban segera guna menambah keyakinan pada dirinya.

Pertanyaan ini dijawab dengan baik oleh orang yang kala itu berdiskusi dengan Aziz. Orang tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhammad juga disebutkan di dalam Injil, dan larangan memakan daging babi disebutkan dalam Alquran. Dan ia semakin takjub saat mengetahui bahwa Islam memiliki surat bernama Maryam, sementara agamanya tidak.

Kebenaran inilah yang membuat Aziz tak sanggup untuk menolaknya. Tak ingin menunda lagi, Aziz meminta diislamkan saat itu juga. Meski tak disaksikan siapapun selain Allah dan kawannya, Lianus Laia pun resmi berhijrah dengan nama Abdul Aziz Laia.


Sumber :
REPUBLIKA.CO.ID,

Pada suatu saat  nabi musa as pergi ke bukit tursina untuk bermunajat kepada Allah swt dan bertanya ke pada Allah swt tentang seberapa besar kasih sayang Allah kepada hambanya.

Setelah mendengarkankeluhan  Nabi Musa as kemudian Allah swt menyuruh Nabi Musa as untuk turun dari bukit dan melihat kejadian yang akan terjadi di kaki bukit dan dalam perintah ini Nabi Musa as tak boleh ikut campur atas kejadian itu, tetapi hanya boleh melihat saja

. Kemudian Nabi Musa as melaksanakan perintah Allah swt, dan sesampainya dikaki bukit Nabi Musa as melihat seseorang berjalan sempoyongan sambil mabuk berjalan menuju ke salah satu rumah sesampainya di rumah tersebut dia memukul-mukul pintu sambil
berteriak”buka….buka….” tak lama kemudian pintu
 dibuka oleh seorang perempuan tua yang bersinar wajahnya, ketika melihat perempuan itu sipemabuk langsung memukul orang tersebut sampai babak belur, kemudian ketika orang tua itu jatuh sipemabuk menendang-nendang, masih tak puas juga sipemabuk menyeret orang tua yang tak lain adalah ibunya itu ke bukit yang terjal dan dipenuhi oleh banyak batu-batu yang tajam, ketika sampai diatas bukit sipemabuk(anak durhaka) melempar orangtua itu(ibunya) kebawah bukit, kemudian setelah puas sipemabuk durhaka itu turun sempoyongan sambil kesakitan terkena bebatuan yang tajam, ketika melihat hal itu si ibu yang  tergeletak dengan penuh luka berteriak: “hati-hati anakku jangan sampai kakimu terluka terkena batu-batu yang tajam rasanya aku ingin jadi alas kakimu biar aku yang terluka dan kakimu tak terluka.

 Ketika melahat hal ini Nabi Musa as berteriak:”ya Allah kasih sayang macam apa ini yang tak ada dendam sama sekali” kemudian Allah swt berfirman kepada Nabi Musa as: (yang kurang lebihnya)” wahai musa ketahuilah kasih sayangku terhadap hamba-hambaku lebih besar dari kasih sayang seorang ibu itu kepada anaknya, wahai musa kasih tau hamba-hambaku untuk bertobat atas dosa-dosanya dan suruhlah mereka(hamba-hambaku ) untuk menemuiku dan meminta kepadaku, aku akan kabulkan doanya…”Ada hadis dari Nabi Muhammad saww: “Allah swt berfirman dalam hadist gudsi: “aku tidak lupa kepada hambaku yang lupa kepadaku bagaimana aku terhadap hambaku yang datang kepadaku”(Allah swt pasti akan memuliakan hamba-hambanya yang datang kepadanya)

Kalau kita ingin bertemu kepada orang-orang yang berpangkat/orang-orang yang terkenal maka kita harus membikin janji terlebih dahulu, kita memiliki Tuhan(ALLAH SWT) dialah dzat yang maha mulia tak ada yang bisa menandinginya, dan kita bisa bertemu dengannya setiap saat tanpa janji terlebih dahulu kenapa kita melupakannya, sungguh benar orang-orang yang masuk neraka itu karena ulahnya sendiri bukan orang lain.

Allah adalah Nur (cahaya di atas segala cahaya) 
kalau matahari di siang hari bersinar dengan terangnya dan rumah2 yang terbuka jendala2nya dan sinar matahari masuk kedalam nya maka orang2 yang ada di dalam rumah bisa dengan mudah melakukan pekerjaan2 mereka, dan ketika matahari bersinar akan tetapi orang2 yang ada di dalam rumah menutup jendala rapat2 sehingga tidak sedikitpun cahaya yang masuk ke dalamnya, sehingga rumah tersebut gelap gulita dan menyebabkan orang2 yang berada di dalamnya tidak bisa bekerja, ini semua bukan kekurangan atau kesalahan matahari akan tetapi kekurangan  dan
 kesalahan orang2 yang berada di dalam rumah tersebut, karena tidak mau membuka jendela2 rumahnya….
Allah adalah Nur(cahaya yang lebih baik/di atas segala cahaya) yang terang utk dirinya sendiri dan menerangi yang lainnya…

dan beruntunglah orang2 yang mau membuka jendela2 rumah(hati)nya, sehingga bisa menikmati rahmat dan kasih sayangNya…..
ada beberapa contoh yang bisa kita pakai untuk mengukur bagaimana kedekatan kita kepada Allah dan apakah Allah jauh dari kita itu berarti Allah tinggal jauh dari kita….
ada sebuah perbandingan antara 5 orang yang mana dinatara dari mereka adalah orang yang paling dekat dengan Alquran… orang2nya adalah sebagai berikut dan mereka semua membawa Alquran:
orang:
1) tidak bisa membaca alQuran akan tetapi Al-quran di tangannya…
2) bisa membaca al-Quran akan tetapi tidak bisa mengartikannya (al-quran jg berada di tangannya)….
3) bisa membaca al-Quran dan bisa mengartikannya , akan tetapi tidak bisa menafsirkannya (al-quran jg berada di tangannya)….
4) bisa membaca al-Quran, bisa mengartikannya dan bisa menafsirkannya akan tetapi tidak bisa mengamalkannya (al-Quran juga berada di tangannya)….
5) bisa membaca al-Quran, bisa mengartikannya, bisa menafsirkannya dan bisa jg mengamalkannya (al-Quran berada di tangannya)…
dalam pengelihatan secara dhohiri al-quran sama2 berada di tangan mereka (5 orang) semua akan tetapi secara maknawi orang kelima yang paling dekat dengan al-Quran karena bisa benar2 bicara dengan al-Quran, dan bisa memahami al-Quran dng sempurna………..
Allah bersama kita dimana saja kita berada..
Allah lebih dekat kepada kita dari pada urat nadi kita kepada kita…..
Allah lebih dekat kepada kita daripada kita dengan nyawa kita……
tapi secara maknawi seberapa dekatkah kita kepada Allah?
contoh yang ada di atas bisa kita pakai untuk mencontohkan seberapa kedekatan kita dengan Allah….
apakah kita telah mengetahui Allah?
apakah kita telah mengenal Allah?
apakah kita telah mengetahui untuk apa Allah menciptakan kita?
apakah kita telah mengetahui apa yang diinginkan Allah dari kita?
apakah kita telah mengetahui apa2 yang mengeluarkan kita dari agama Allah sehingga kita bisa menjaga diri dari itu semua?

Fatimah Az-Zahra a.s adalah putri ke empat Rasulullah saw. Beliau adalah putri kesayangan Nabi saw dan merupakan putri satu2nya yang mendampingi Nabi saw sampai akhir hayat Nabi saw. Beliau adalah wanita yang paling dicintai oleh Nabi yang dengannya keturunan Nabi saw tidak terputus.

Al-Hasan dan Al-Husein adalah kedua putranya yang Nabi saw telah bersabda tentang mereka. Nabi saw bersabda bahwa “Al-Hasan dan Al-Husein adalah anak-anakku ..” Suaminya adalah Amirul Mukminin Ali a.s, Ibunya adalah Khadijah r.a. Ummul mukminin, pamannya adalah Hamzah r.a pemberani qurasy, pamannya adalah Abbas r.a.
Dan Fatimah a.s. adalah kautsar Nabi saw yang mana surah Al-Kautsar turun berkenaan dengannya.
Fatimah a.s. adalah Az-Zahra adalah Ash-Shiddiqah adalah Ath-Thahirah adalah Al-mubaarakah adalah Az-Zakiah adalah Ar-Radhiah adalah Al-Mardhiah adalah Al-Muhaddatsah dan adalah Al-Batuul serta beliau adalah Ummu AbiHa..

Hasan Al-Bashri wafat thn 110 H berkata ” tidak ada seorangpun dari ummat ini yang lebih bertaqwa dan lebih dalam zuhud dan ibadahnya dari Fatimah a.s.”
Fatimah a.s adalah wanita yang dari seluruh sudut pandang ahlu sunnah maupun syiah adalah wanita yang tidak pernah berbuat salah sama sekali…
Rasulullah SAWW berkata kepada Fatimah : “Wahai Fathimah, barang siapa bershalawat kepadamu, maka Allah akan mengampuni (dosa-dosanya) dan mengumpulkannya denganku di surga”.
Fatimah a.s berkata kepada Khalifah pertama dan kedua: “Jika aku membacakan hadis dari Rasulullah SAWW apakah kalian akan mengamalkannya?”
“Ya”, jawab mereka singkat.
Ia melanjutkan: “Demi Allah, apakah kalian tidak pernah mendengar Rasulullah SAWW bersabda: “Kerelaan Fathimah adalah kerelaanku dan kemurkaannya kemurkaanku. Barang siapa mencintai Fathimah putriku, maka ia telah mencintaiku, barang siapa yang membuatnya rela, maka ia telah membuatku rela, dan barang siapa membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka”?
“Ya, kami pernah mendengarnya dari Rasulullah SAWW”, jawab mereka pendek.
“Kujadikan Allah dan malaikat sebagai saksiku bahwa kalian berdua telah membuatku murka. Jika aku kelak berjumpa dengan Rasulullah, niscaya aku akan mengadukan kalian kepadanya”, lanjutnya.

Disbutkan dalam shahih Bukhori dalam kitab Bada’ al-Khalq di bab Manaqib qarabatu Rasulillah saw bahwa Rasulullah saw bersabda : ” Fatimah adalah bagian dariku, maka barang siapa yang membikin marah dia maka telah membuatku marah”
hadis seperti ini juga di riwayatkan dalam kitab Kanz Al-Ummal jilid 6 halaman 230.
disebutkan juga dalam kitab shahih Bukhori dalam kitab Al-Nikah
disebutkan juga dalam kitab Musnad Ahmad jilid 4 halaman 328.
disebutkan juga dalam kitab shahih Muslim di dalam bab Fadhail as-Shahabah.
disebutkan juga dalam kitab shahih Muslim di al-Bab al-Mutaqadim.
disebutkan juga dalam kitab shahih at-Tirmidzi jilid 2 halaman 319.
disebutkan juga dalam kitab al-Mustadrak ala al-Shahihain jilid 3 halaman 158.
disebutkan juga dalam kitab Hilah al-Auliya’ jilid 2 halaman 40
hadis diatas disebutkan dalam alur yang berbeda di dalam kitab as-Shawaiq al-Muhriqah hal 190 bahwa

Rasulullah bersabda : ” sesungguhnya Allah swt marah untuk marahnya Fatimah dan Ridha untuk Ridhanya Fatimah.”
hadis-hadis tentang kemuliaan sayidah Fatimah as dimuat di seluruh buku-buku ulama’ sunni yang mu’tabar dan penting.
sayidah Fatimah adalah kecintaan Nabi saw, kecintaan Nabi saw adalah kecintaan Allah swt.
disebutkan didalam al-Quran surah al-Ahzab ayat 57 bahwa Allah swt berfirman : “sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Allah swt dan RasulNya, maka Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”
disebutkan dalam kitab الوافی بالوفیات jilid 2 halaman 17 bahwa ابراهیم ابن سیار النظام berkata bahwa sesungguhnya Umar ibn khattab (khalifah kedua) telah memukul perut sayidah Fatimah as (yang dalam keadaan hamil) di hari baiat (hari dimana masyarakat dipaksa untuk berbaiat kepada Abubakar) sampai Muhsin (anak yang dikandungnya) keluar dari perutnya jatuh ketanah.

disebutkan juga dalam kitab الامامة و السیاسة jilid 1 halaman 12 bahwa IBn Qutaibah Ad-Dainuri berkata : sesungguhnya Abubakar mencari sekelompok orang untuk berbaiat kepadanya yang mana sekelompok tersebut berada di rumah sayidina Ali as maka Abu bakar mengirim Umar, datanglah Umar ke rumah sayidina Ali as dan dia memanggil mereka semua yang berada di dalam rumah sayidina Ali as, akan tetapi mereka semua tidak ada yang menjawab teriakan Umar, dan tidak ada satupun yang keluar, maka Umar untuk kedua kalinya dengan membawa kayu bakar yang ada di tangannya dia berteriak : “demi yang jiwaku berada di tangannya kalian semua akan keluar atau aku bakar rumah ini beserta yang berada didalamnya.”
satu orang dari dalam rumah berkata kepada Umar : “wahai ayahnya Hafsah sesungguhnya Fatimah berada di dalam rumah ini.”

Umar berakata :”walaupun dia ada” (aku akan tetap membakar rumah ini).
kejadian ini juga dimuat di dalam kitab العقد الفرید jilid 4 halaman 259 cetakan mesir dengan alur yang sedikit berbeda..
di dalam kitab کنز العمال jilid 3 halaman 140 bahwa umar berkata keada sayidah Fatimah as: “tidak ada orang yang lebih dicintai oleh ayahmu lebih daripada cintanya kepadamu, akan tetapi ini tidak akan mencegahku, sebagaimana sekelompok orang ini yang telah berkumpul di dekatmu, aku akan memerintah mereka untuk membakar rumahmu.”
orang-orang yang menyerang rumah putri Nabi saw itu disebutkan di dalam kitab تاریخ الطبری jilid 2 halaman 443-444.
kejadian juga disebutkan dalam kitab تاریخ ابوالغداء jilid 1 halaman 156 dengan alur yang sedikit berbeda yaitu

Abubakar menyuruh Umar untuk mengambil baiat dari orang-orang yang berada di dalam rumah sayidina Ali, dan jika mereka menolak maka perintah berikutnya adalah Umar harus menyerang mereka, dan Umar membakar rumah sayidah Fatimah as..
disebutkan di kitab2 sejarah bahwa sayidah Fatimah mulai saat itu sampai meninggal tidak mau berbicara kepada Abubakar dan Umar dan juga tidak Ridha atas perbuatan mereka, serta marah atas apa yang mereka lakukan kepadanya dan sayidina Ali as..
disebutkan juga didalam kitab sejarah bahwa sayidah Fatimah setiap selesai sholat selalu mengadu kepada Allah swt atas perbuatan mereka….
disebutkan juga dalam kitab-kitab sejarah bahwa Fatimah a.s berkata kepada Khalifah pertama dan kedua: “Jika aku membacakan hadis dari Rasulullah SAWW apakah kalian akan mengamalkannya?”
“Ya”, jawab mereka singkat.

Ia melanjutkan: “Demi Allah, apakah kalian tidak pernah mendengar Rasulullah SAWW bersabda: “Kerelaan Fathimah adalah kerelaanku dan kemurkaannya kemurkaanku. Barang siapa mencintai Fathimah putriku, maka ia telah mencintaiku, barang siapa yang membuatnya rela, maka ia telah membuatku rela, dan barang siapa membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka”?
“Ya, kami pernah mendengarnya dari Rasulullah SAWW”, jawab mereka pendek.
“Kujadikan Allah dan malaikat sebagai saksiku bahwa kalian berdua telah membuatku murka. Jika aku kelak berjumpa dengan Rasulullah, niscaya aku akan mengadukan kalian kepadanya”, lanjutnya.
di kitab as-Shawaiq al-Muhriqah hal 190 bahwa Rasulullah bersabda : ” sesungguhnya Allah swt marah untuk marahnya Fatimah dan Ridha untuk Ridhanya Fatimah.”
disebutkan didalam al-Quran surah al-Ahzab ayat 57 bahwa Allah swt berfirman : “sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Allah swt dan RasulNya, maka Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Setelah memeluk agama Islam, namanya menjadi Asiya Abdul Zahir. Kedua orangtuanya adalah pemeluk agama Budha, tapi ia lebih merasa sebagai seorang Kristiani karena ia sekolah di sekolah Kristen dan berada di lingkungan umat Kristiani.

“Saya selalu meyakini keberadaan satu-satunya Sang Pencipta, dimana semua yang ada sangat bergantung pada Sang Pencipta. Sejak usia 13 tahun, pada Sang Pencipta tunggal inilah, setiap hari saya berdoa dan memohon petunjuk,” kata Asiya menceritakan kehidupannya sebelum masuk Islam.

“Sayang, saat itu pengetahuan saya tentang Islam masih minim. Saya memandang Islam sebagai agama yang aneh, hanya untuk segelintir bangsa-bangsa yang masih terbelakang, yang kebanyakan berada di Timur Tengah, agama yang membatasi gaya hidup, khususnya bagi kaum perempuan,” sambungnya.
Asiya yang ketika itu belum mengenal Islam lebih dalam, menganggap Islam merendahkan kaum perempuan, perempuan dalam Islam diperlakukan sebagai budak, mengalami kekerasan fisik dan dipaksa untuk bersaing diantara empat perempuan untuk merebut kasih sayang suami (poligami) dan suami bisa melakukan apa saja terhadap istri-istrinya.

Asiya mengakui bahwa penilaiannya itu berdasarkan apa yang sering ia dengar saja dan beberapa program dokumenter yang pernah ia saksikan di televisi. Pandangannya mulai berubah ketika ia kuliah di perguruan tinggi dan berinteraksi dengan beberapa mahasiswa muslim dari berbagai latar belakang.

“Aneh, bahkan saya merasakan diri saya aneh, saya tertarik dengan mereka dan penasaran ingin mempelajari dan memahami agama mereka lebih jauh.”
“Saya perhatikan mereka sangat bahagia, saya terkesan dengan keterbukaan dan kehangatan mereka pada saya dan pada orang lain. Tapi yang lebih penting, saya terkesan dengan kebanggaan dan rasa memiliki terhadap agama yang selama ini selalu dikonotasikan dengan hal-hal negatif,” tutur Aisya.
Sedikit demi sedikit, ia merasa kagum pada Islam, dan melalui proses edukasi, ia penghormatanya terhadap agama Islam bertambah besar, bahkan jika dibandingkan dengan penghormatan terhadap agama Kristen yang selama ini ia kenal.

Asiya terkesima ketika menyadari kesalahan tentang pandangannya selama ini terhadap Islam, terutama panilaiannya yang salah tentang posisi perempuan dalam Islam. “Saya menyadari realita tentang gaya hidup Islami dan kebenaran terkait istilah yang diciptakan orang-orang Amerika tentang ‘fundamentalisme Islam’,” kata Asiya.

“Makin banyak literatur, tanda-tanda dan bukti yang diungkapkan pada saya, daya intelektualitas saya makin terstimulasi dan jiwa saya, merasakan kehangatan. Saya ingin tahu semuanya tentang Islam dan saya sudah merasakan persaudaraan dan rasa memiliki diantara orang-orang Islam,” tukasnya.
Asiya mengungkapkan, yang paling membuatnya terkesan pada Islam adalah, Islam adalah agama yang praktis dan bagaimana Islam memberikan mengatur kehidupan semua makhluk hidup. “Dan atas karunia Allah, saya akhirnya memahami kesalahan konsep teologi agama Kristen dan konsep yang sebelumnya saya terima tanpa pertanyaan,” tambah Asiya.

Klimaks dari itu semua terjadi pada 4 Agustus 1994. Di hadapan 20 saksi, Asiya mengucapkan dua kalimat syahadat dan secara resmi menjadi seorang muslim.
“Saya tidak akan pernah melupakan hari penuh rahmat itu, dan bagaimana hidup saya berubah drastis hanya dalam waktu satu tahun. Saya sering ditanya, bagaimana rasanya menjadi mualaf dan kesulitan apa yang saya hadapi. Meski saya tidak mau membicarakan masalah ini, saya tetap memberikan contoh apa saja kesulitan yang saya alami,” ujar Asiya
.
Ia mengakui beratnya tantangan saat ia menjalani puasa saat Ramadan pertamanya. Belum lagi sikap keluarganya yang belum bisa menerima keislaman Asiya. Asiya sering menerima umpatan kasar bahkan ancaman dari keluarganya. Dalam berbagai kesempatan, Asiya juga mengalami teror, kamarnya diacak-acak, buku-bukunya banyak yang hilang secara misterius dan pesan-pesan sms berisi fitnah terhadapnya, yang dikirim ke teman-teman dan orangtua teman-teman Asiya.

“Jika saya ingin membaca, atau bicara di telepon, semuanya dilakukan dengan cara diam-diam. Begitu pula jika saya ingin pergi ke masjid atau tempat-tempat yang menggelar acara keislaman. Saya baru salat jika sudah memastikan tidak ada orang di sekitar saya, dan saya juga tidak bisa mengekspresikan kegembiraan saya saat Ramadan tiba, dan tidak berbagi kebahagiaan melihat teman-teman muslim yang sudah mengenakan jilbab,” tutur Asiya.

Tapi Asiya tidak menganggap semua itu sebagai penderitaan hidupnya, karena setelah memeluk Islam, Asiya merasakan kepuasan dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. (ln/rhm)

Saudaraku, Islam ternyata sangat peduli dengan dinamika dan semangat beraktivitas di awal waktu. Setiap hari selalu diawali dengan datangnya waktu pagi. Waktu pagi merupakan waktu istimewa. Ia selalu diasosiasikan sebagai simbol kegairahan, kesegaran dan semangat. Barangsiapa merasakan udara pagi niscaya dia akan mengatakan bahwa itulah saat paling segar alias fresh sepanjang hari. Pagi sering dikaitkan dengan harapan dan optimisme. Pagi sering dikaitkan dengan keberhasilan dan sukses. Sehingga dalam peradaban barat-pun dikenal suatu pepatah berbunyi: ”The early bird catches the worm.” (Burung yang terbang di pagi harilah yang bakal berhasil menangkap cacing).

Dalam sebuah hadits ternyata Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam juga memberi perhatian kepada waktu pagi. Sehingga di dalam hadits tersebut beliau mendoakan agar ummat Islam peduli dan mengoptimalkan waktu spesial dan berharga ini.

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi hari.” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam biasa mengirim sariyyah atau pasukan perang di awal pagi dan Sakhru merupakan seorang pedagang, ia biasa mengantar kafilah dagangnya di awal pagi sehingga ia sejahtera dan hartanya bertambah.” (HR Abu Dawud 2239)

Melalui doa di atas Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ingin melihat umatnya menjadi kumpulan manusia yang gemar beraktifitas di awal waktu. Dan hanya mereka yang sungguh-sungguh mengharapkan keberhasilan dan keberkahan-lah yang bakal sanggup berpagi-pagi dalam kesibukan beraktifitas. Oleh karenanya, saudaraku, janganlah kita kecewakan Nabi kita. Janganlah kita jadikan doa beliau tidak terwujud. Marilah kita menjadi ummat yang pandai bersyukur dengan adanya waktu pagi.  Marilah kita me-manage jadwal kehidupan kita sehingga di waktu pagi kita senantiasa dilimpahkan berkah karena kita didapati Allah dalam keadaan ber’amal.
Janganlah kita menjadi seperti sebagian orang di muka bumi yang membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja dengan aktifitas tidak produktif, seperti tidur misalnya. Biasanya mereka yang mengisi waktu pagi dengan tidur menjadi fihak yang sering kalah dan merugi. Bagaimana tidak kalah dan merugi? Pagi merupakan waktu yang paling segar dan penuh gairah… Bila di saat paling baik saja seseorang sudah tidak produktif, bagaimana ia bisa diharapkan akan sukses beraktifitas di waktu-waktu lainnya yang kualitasnya tidak lebih baik dari waktu pagi hari…???
Maka, di antara kiat-kiat agar insyaAllah kita selalu memperoleh keberkahan di pagi hari adalah:
Pertama, jangan biasakan begadang di malam hari. Usahakanlah agar setiap malam kita bersegera tidur malam. Idealnya kita jangan tidur malam melebihi jam sepuluh malam. Kalaupun banyak tugas, maka pastikan mulai tidur  jangan lebih lambat dari jam sebelas. Kalaupun tugas sedemikian bertumpuknya, maka pastikan bahwa pukul duabelas tengah malam merupakan batas akhir kita masih bangun.
Kedua, pastikan bahwa sedapat mungkin kita bisa bangun di tengah malam sebelum azan Subuh untuk mengerjakan sholat tahajjud dan witir. Idealnya kita selalu berusaha untuk sholat malam sebagaimana Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, yaitu sebanyak delapan rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir. Namun jika tidak tercapai, maka kurangilah jumlah rakaatnya sesuai kesanggupan fisik dan ruhani sehingga minimal dua rakaat tahjjud dan satu rakaat witir. Tapi ingat, ini hanya dikerjakan bila kita terpaksa karena tidur terlalu  larut malam mendekati jam duabelas malam.  Yang jelas, usahakanlah setiap malam agar kita selalu bisa melaksanakan sholat malam (tahjjud plus witir). Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjamin bahwa orang yang menyempatkan diri untuk bangun malam dan sholat malam, maka ia bakal memperoleh semangat dan kesegaran di pagi harinya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang tidak menyempatkan diri untuk bangun dan sholat malam, maka di pagi hari ia bakal memiliki perasaan buruk dan  malas.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Syetan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Syetan men-stempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan: Bagimu malam yang panjang maka tidurlah. Apabila ia bangun dan berdzikir kepada Allah ta’aala maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia sholat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.” (HR Bukhary 4/310)

Ketiga, pastikan diri tidak kesiangan sholat subuh. Dan khusus bagi kaum pria usahakanlah untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Sebab sholat subuh berjamaah di masjid merupakan sarana untuk membersihkan hati dari penyakit kemunafikan.


Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi kaum munafik adalah sholat isya dan subuh (berjamaah di masjid). Andai mereka tahu apa manfaat di dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak-rangkak. (HR Muslim 2/123)


”Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya.” (HR Muslim 3/387)

 Keempat, janganlah tidur sesudah sholat subuh. Segeralah isi waktu dengan sebaik-baiknya. Entah itu dengan bersegera membaca wirid atau ma’tsurat pagi atau apapun kegiatan bermanfaat lainnya. Barangkali bisa membaca buku, berolah-raga atau menulis buku atau bahkan berdagang sebagaimana kebiasaan sahabat Sakhru bin Wada’ah. Orang yang tidur di waktu pagi berarti menyengaja dirinya tidak menjadi bagian dari umat Islam yang didoakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperoleh berkah Allah di pagi hari. Ia menyia-nyiakan kesempatan berharga. Pagi merupakan saat paling berkualitas sepanjang hari. Alangkah naifnya orang yang sengaja membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja tanpa aktifitas bermanfaat dan produktif. Tak heran bila Nabi shollallahu ’alaih wa sallam justru memobilisasi pasukan perangnya untuk berjihad fi sabilillah senantiasa di awal hari yakni di waktu pagi sehingga fihak musuh terkejut dan tidak siap menghadapinya.

Ya Allah, berkahilah kami di pagi hari selalu. Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari kemalasan dan ketidakberdayaan dalam hidup kami, terutama di waktu pagi hari.

Ada sebagian muslim bilamana selesai mengerjakan sholat lima waktu langsung meninggalkan tempat sholatnya lalu berdiri untuk segera kembali meneruskan kesibukan duniawinya. Mereka tidak menyempatkan diri untuk berhenti sejenak membaca wirid ataupun bacaan-bacaan yang sesungguhnya dianjurkan dan dicontohkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.
Padahal terdapat banyak variasi wirid yang dicontohkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam selepas beliau mengerjakan sholat lima waktu. Di antaranya:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Apabila Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam selesai dan salam dari sholat beliau mengucapkan: ”Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya segala puji dan bagiNya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Kekayaan seseorang tidak berguna dari ancamanMu.” (HR Bukhary 3/348)
Setidaknya dari wirid di atas ada tiga poin penting yang mengandung pengokohan kembali iman seseorang.

Pertama, ia mengokohkan pengesaannya akan Allah subhaanahu wa ta’aala. Ia memperbaharui tauhid-nya, keimanannya bahwa hanya ada satu ilah di jagat raya ini dan bahwa ilah tersebut tidak memiliki sekutu apapun bersamaNya.

Kedua, ia mengokohkan keyakinannya bahwa sesungguhnya rezeqi seseorang sepenuhnya telah ditakar dan ditentukan terlebih dahulu oleh Allah subhaanahu wa ta’aala. Sehingga pembaharuan keyakinan ini akan membuat dirinya tetap rajin namun tidak ngoyo dalam mengejar rezeqi di dunia.

Ketiga, ia bahkan membebaskan dirinya dari faham materialisme. Suatu faham yang menganggap bahwa banyak-sedikitnya materi menentukan mulia-hinanya seseorang. Padahal sekaya apapun seseorang, maka sesungguhnya kekayaannya itu tidak dapat membebaskan dirinya dari ancaman serta siksaan Allah subhaanahu wa ta’aala bilamana ia tidak memenuhi hak Allah untuk disembah dan diesakan. Allah subhaanahu wa ta’aala bukanlah seperti kebanyakan fihak di dunia fana ini yang dengan mudah bisa disuap.
Ada lagi jenis wirid yang biasa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam kerjakan sebagai berikut:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ يَوْمًا ثُمَّ قَالَ يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَنَا أُحِبُّكَ قَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى
ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Dari sahabat Mu’adz radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah menggandeng tangnnya dan bersabda: “Demi Allah, hai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintaimu.” Lalu beliau bersabda: “Aku berwasiat kepadamu hai Mu’adz, jangan kau tinggalkan setiap selesai sholat ucapan: “Ya Allah, berilah pertolongan kepadaku untuk berdzikir menyebut namaMu, syukur kepadaMu dan ‘ibadah yang baik untukMu.”(HR Ahmad 45/96)
Orang yang rajin membaca wirid di atas selepas sholat lima waktu tentu akan menjadi seorang mu’min yang senantiasa rendah hati dan hanya bergantung kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Sebab betapapun banyaknya aktivitas dzikir, bersyukur dan ber-ibadahnya namun dengan penuh kesadaran ia terus memohon hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala untuk menjadikan dirinya selalu sanggup mengerjakan ketiga perkara mulia tersebut.

Bahkan ada jenis wirid yang menurut Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bila dikerjakan seorang muslim selepas sholat lima waktu akan menyebabkan dirinya terjamin memperoleh ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala atas segenap dosanya betapapun banyaknya dosa yang ia miliki:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (مسلم)

“Barangsiapa bertasbih kepada Allah tigapuluh tiga kali setiap selesai sholat lalu bertahmid kepada Allah tigapuluh tiga kali dan bertakbir kepada Allah tigapuluh tiga kali maka itu adalah sembilanpuluh sembilan lalu mengucapkan -sebagai penyempurna menjadi seratus- dengan “Tidak ada ilah selain Allah tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segenap kerajaan dan miliknya segenap puji-pujian. Dan Dia atas segala sesuatu Maha Berkuasa, ” niscaya dosa-dosanya diampuni meskipun seperti buih lautan.” (HR Muslim 3/262)

Tidak ada seorangpun manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Sehingga seorang muslim pastilah sangat berhajat akan ampunan Allah subhanaahu wa ta’aala agar dirinya selamat pada hari perhitungan kelak di akhirat.

Maka, saudaraku, sempatkanlah untuk membaca wirid-wird yang dianjurkan dan dicontohkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam selepas sholat lima waktu. Jangan menjadi hamba dunia yang menyangka bahwa jika sudah selesai sholat yang penting adalah segera kembali mengerjakan kesibukan duniawinya. Padahal apalah artinya segenap dunia yang dikejar dibandingkan dengan kebaikan yang dijanjikan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam jika kita mau saja mengisi waktu sejenak selepas sholat wajib harian kita.
Powered by Blogger.