Halloween party ideas 2015
Showing posts with label Mualaf. Show all posts

Ingin Jadi Ahlul Qur’an, Ni Putu Masuk Islam

 Perjuangan panjang seorang dara campuran



NI Putu adalah seorang gadis asal Bali. Sebagaimana masyarakat Bali pada umumnya yang menaut agama Hindu, Putu pun mengaku bahwa ia lahir dari keluarga nonmuslim.
Dalam keluarganya, Ni Putu adalah anak tertua dari tujuh bersaudara. Ayahnya berasal dari Sumatera Utara dan ibu dari Lampung. Adalah perjalanan panjang bagaimana ia sampai ke Bali. Pada saat usianya menjelang remaja, tepatnya 17 tahun, ia memutuskan untuk memeluk agama islam, tepatnya tahun 2008.

Sebelumnya, ibunya telah dulu memeluk agama islam. Sungguh luar biasa semangat dia untuk mencapai ridha-Nya. Ia rela pergi dari Pulau Dewata Bali ke Jawa Barat, tepatnya kota Purwakarta.  Ia melakukan itu hanya untuk menjadi seorang hafizah yang diadakan di Pesantren Ad-Dhuha Purwakarta. Pesantren inilah yang mengadakan  program daurah al-Quran, yaitu menghafal al-Qur’an selama 40 hari.

Subhanallah. Motivasi yang ia bawa dari Bali ke Purwakarta  yakni hanya ingin menjadi Ahlul Qur’an, orang yang akan berada di sisi Allah SWT di akhirat nanti.  Cita-citanya begitu sederhana, ia hanya ingin menjadi orang yang berguna di sekelilingnya, khusunya kedua orang tuanya.

Pertemuan dengan Al-Fatah


Saat Media menemuinya, ia sudah lulus dari salah satu universitas di Bali tahun ini. Dan ia pun sudah ditempatkan di salah satu perusahaan sebagai karyawan tetap. Di sela kesibukannya yang padat, ia mencari-cari tempat dimana ia bisa memfasihkan membaca Al-Qur’annya.

Hingga akhirnya Allah SWT mempertemukannya dengan Al-Fatah. Dari sinilah ia bisa membaca Al-Qur’an dengan makhroj yang benar. “Setiap hari saya membaca Al-Qur’an hati saya menjadi tenang. Di setiap ayatnya, saya menemukan kalimat-kalimat yang indah. Sehingga dari kalimat itulah semakin memantapkan hati saya untuk menjadi Ahlul Qur’an,” terang Putu.

Akhir dari perjuagan


“Walaupun di jalanan sana banyak rintangan yang menghadang, tapi saya yakin jika Allah SWT akan selalu melindungi umatnya yang ingin berjuang di jalannya,” ujar Putu lagi.
Dan satu hal yang senantiasa dipegang oleh Putu. “Agama Islam adalah agama yang paling mulia, dan aku inging membawa orang tuaku berada di sisi Allah SWT di surga nanti,” pungkasnya. Subhanallah! 


[santi/islampos]

Sunita Williams, seorang wanita India pertama yang pergi ke bulan pada tanggal 9-07-2011.
Kembalinya dari Bulan langsung masuk dan memeluk Agama Islam.

Dia berkata :
''Dari Bulan seluruh Bumi kelihatan hitam dan gelap kecuali dua tempat yang terang dan bercahaya.
Ketika aku lihat dengan Teleskop, ternyata tempat itu adalah Mekkah dan Madinah. Di Bulan semua frekuensi suara tidak berfungsi, Tapi aku masih mendengar suara Adzan.''

Prof Lawrence E Yoseph :
Sungguh kita telah berhutang besar kepada umat Islam, dalam Encyclopedia Americana menulis :
"...Sekiranya orang-orang Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun shalat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yang berpusat di Hajar Aswad, tidak lagi memencarkan gelombang elektromagnetik .

Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas :
Menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yang mempunyai kadar logam yang sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yang ada !!

Beberapa astronot yang mengangkasa melihat suatu sinar yang teramat terang mememancar dari bumi, dan setelah diteliti ternyata bersumber dari Bait Allah atau Ka'bah.
Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yang berfungsi bagai mikrofon yang sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.

Prof Lawrence E Yoseph - Fl Whiple menulis :
"...Sungguh kita berhutang besar kepada orang Islam, shalat, tawaf dan tepat waktu menjaga super konduktor itu..."

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi.
Radiasi yang berada di sekitar ka’bah ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam.
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’,
artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi.

Sebab itu lah ketika kitìa mengelilingi Ka’Bah, maka seakan- akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Makkah juga merupakan pusat bumi.
Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini.

Allah berfirman :
‘Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (ar-
Rahman:33).

Menurut riwayat Ibnu Abbas dan Abdullah bin Amr bin As, dahulu Hajar Aswad tidak hanya berwarna putih tetapi juga memancarkan sinar yang berkilauan.
Sekiranya Allah subhanahu wata'ala tidak memadamkan kilauannya, tidak seorang manusia pun yang sanggup mamandangnya.
Dalam penelitian lainnya, mereka mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air.
Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut ( dari Ka’Bah ) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tatasurya kita.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda :
Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam.

Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha illallah, Allahu Akbar

Betapa bergetar hati kita melihat dahsyatnya gerakan thawaf haji dan Umroh. Ini adalah jawaban fitnah dan tuduhan jahiliyah yang tak didasari ilmu pengetahuan ;
yaitu mengapa kaum Muslimin shalat ke arah kiblat dan bahwa umat Islam di anggap menyembah Hajar Aswad. Hanya Allah Yang Maha Kuasa Dan Segala-Galanya.

Subhanallah ..


 sebarkan ke sesama muslim. (Berarti anda telah membelanjakan hartamu di jalan Allah)

Sumber : facebook.com/ Yoedhy Adrians

Dream -

 Sebelum menjadi mualaf, Katia adalah seorang yang religius meski dia sendiri mengaku dibesarkan dari keluarga yang tidak terlalu religius.

Melihat keluarganya yang sangat jarang beribadah, Katia berniat mencari informasi tentang agamanya sebanyak-banyaknya.

Dia mencoba berbagai aliran dalam agamanya. Katia juga menghadiri banyak ibadah dari aliran-aliran agama tersebut. Katia awalnya merasa nyaman dengan beberapa orang yang ia temui.

Namun Katia hanya menemui pemandangan sesaat ketika ia beribadah dengan orang-orang tersebut. Setelah keluar dari ibadah, orang-orang yang ia temui tersebut kembali pada kepribadian dan perilaku yang sama sekal berbeda saat mereka beribadah.

Hal itu membuat Katia benar-benar ingin menjauh dari kelompok- kelompok agama tersebut. Perasaannya terus mendorong Katia untuk mencari tahu agama lainnya.

Katia sering menjumpai Muslimah di Rusia. Tapi mereka tidak mengenakan hijab. Hanya satu teman Muslimah Katia yang pernah dia temui memakai hijab.

Dia bernama Salaly. Jujur, Katia tidak pernah menghormati agama Salaly atau merasa bangga bahwa dia mempunyai kepercayaan tersebut.

Katia juga punya teman-teman Muslim, tapi mereka tidak religius. Saat mempelajari Islam, Katia tertarik dengan satu pandangan yang menyebutkan jangan menilai Islam dengan melihat Muslim karena Islam adalah satu.

Tetapi Muslim begitu banyak dan dianut oleh berbagai bangsa, budaya dan semuanya mengamalkan Islam lewat cara mereka sendiri.

Bagi kebanyakan orang di dunia Barat, Muslimah identik dengan niqab, berpakaian hitam, dan tidak bisa keluar. Dan perkara terbesar Katia adalah kesenjangan budaya tersebut dan apa yang terjadi pada 11 September.

Ketika itu Katia masih di sekolah menengah. Semua orang mulai menuding dan menyebarkan kabar angin tentang teroris yang mengatasnamakan Islam. Dan secara otomatis, mereka percaya bahwa Islam merupakan puncak segala masalah di dunia, terutama 11 September.

Namun Katia melihat orang hanya mengandalkan pada apa yang disampaikan teman mereka, keluarga mereka atau media. Maka, orang yang berada dalam frame pikiran ini akan mengatakan 'mereka membenci kita, maka kita harus membenci mereka, kita harus melakukan sesuatu'.

"Hal itu membuat saya sedih. Alhamdulillah, saya pikir sesuatu itu terjadi memang karena sesuatu sebab. Saya tidak akan mengatakan bahwa ada sesuatu buruk yang menimpa saya," kenang Katia dikutip Dream.co.id dari laman OnIslam.net, Rabu 1 April 2015.

Katia melihat orang lain menyalahkan umat Islam karena peristiwa tersebut, termasuk dirinya. Tetapi Katia ingin tahu mengapa dia menyalahkan umat Islam.

Katia pun mulai membaca dan melakukan banyak penelitian tentang Islam. Dia menanyakan banyak hal kepada banyak orang.

Namanya Katia. Dia berkebangsaan Rusia. Katia memutuskan untuk menjadi Muslimah setelah terjadi peristiwa serangan teroris 11 September di Amerika Serikat.

 Linda Al-Saigel dibesarkan dalam sebuah keluarga yang taat beragama. Secara rutin, ia dan keluarganya menghadiri gereja.

Memasuki jenjang kuliah, Linda menjadi bagian dari pelayan gereja di Kampus. "Saya merasa benar-benar membuat perbedaan dalam kehidupan remaja," kata dia seperti dilansir Onislam, Rabu (4/2).

Namun, rasa haus Linda akan spiritualitas membuatnya membutuhkan lebih banyak jawaban. Linda membutuhkan agama sebagai cara hidup. Suatu hari, Linda kedatangan tamu di gereja.

Tamu itu seorang pastor asal Tujuana, Meksiko. Ceramah si pastor sangat menginspirasi Linda. Kemudian, Linda terlibat dialog dengan pastor itu.

"Anda berada dalam pengelihatan saya selama 2 pekan. Anda berada di tanah pegunungan berpasir. Anda memiliki penutup kepala. Anda seorang guru atau sesuatu saya tidak yakin," kata pastor itu kepada Linda.

Mendengar cerita pastor itu, Linda terdiam. Ia memutuskan untuk mempelajari agama lain.  Beberapa hari kemudian, Linda diminta menjadi saksi pernikahaan temannya.  Di sanalah, Linda belajar tentang pernikahan Muslim.

"Saya merasa seperti di rumah," kenang Linda.

Setelah pernikahan itu, Linda diundang oleh salah seorang tamu temannya itu. Entah mengapa, Linda merasa nyaman. Di sana, ia berdiskusi tentang Islam dan Muslim. "Ketika jelang tidur, saya mimpikan Nabi Isa AS. Saya diminta untuk mengambil keputusan, putusan yang membuat saya takut," ucap dia.

Sementara itu, Linda mulai menghadiri kelas-kelas tentang Islam. Ia mulai melakukan perbandingan. "Saya melihatnya, ada cerita yang sama yakni pesan tentang Allah," kata dia.

Kemudian, Linda kembali bermimpi. "Saya melihat Nabi Musa. Di kamar saya ada gambar itu, dan saya melihat Nabi Musa tersenyum dan mengatakan 'Ikuti kata hatimu'," kata dia.

Linda terkejut dengan mimpi itu. "Dari setiap  yang saya tanyakan soal mimpi ini, mereka bertanya darimana Anda tahu itu Nabi Isa dan Nabi Musa. Tapi saya katakan kepada mereka, hati saya yang mengatakan itu Nabi Isa dan Nabi Musa," kenang dia.

Usai mimpi itu, Linda pun bermimpi kembali. "Ada yang membisikan saya, Anda harus memilih jalan ini," kenang Linda.

Linda masih penasaran dengan apa maksud mimpi itu. Namun, keinginannya untuk mempelajari Islam jauh lebih besar. Yang menggembirakan ibunya mendukungnya untuk menghadiri kelas Islam. "Ibu selalu disisiku, ia ingin memastikan putrinya membuat keputusan yang jelas," kata dia.

Suatu hari, Linda kembali bermimpi. Kali ini hadir seorang Nabi berkerudung dengan jubah cokelat berjalan ke arahnya. Linda tidak dapat melihat sosok itu.  "Sekali lagi, saya tahu itu Nabi Muhammad (saw). Dia berjalan ke arahku dan mengajakku berjalan menuju cahaya," kata dia.

"Saya kemudian ingat, setiap saya bingung saya meminta Allah untuk menjadi panduan saya. Saya hanya hamba-Nya. Saya hidup di dunia untuk mempelajari pentingnya kehadiran-Nya," kata dia.


Sumer :   REPUBLIKA.CO.ID,





NURNBERG -- Pesepak bola muda asal Jerman, Danny Blum baru saja mengumumkan dirinya telah memeluk agama islam. Pemuda 24 tahun tersebut mendeskripsikan Islam sebagai  agama yang penuh harapan dan kekuatan.
“Islam memberikanku harapan dan kekuatan, berdoa menenangkan jiwaku,” kata Blum ke media terkemuka Jerman, Bild, Selasa (27/1).
Blum bergabung dengan 1. FC Nürnberg  klub divisi 2 Bundesliga bulan Juli silam. Tidak lama setelah resmi ditransfer, ia mengalami cidera parah pada lutut yang memaksanya untuk absen selama 6 bulan. Tidak melakukan apa-apa membuatnya berpikir “Hidup dalam kemewahan, tidak ada tanggung jawab atas apapun. Apa yang akan terjadi setelah pensiun," kata dia.

Pria asal Frankenthal, Jerman tersebut kemudian berbicara dengan teman-temannya tentang agama, pilihannya jatuh pada islam. “Aku sudah mengunjungi masjid dan langsung merasakan sesuatu dalam hati. Aku merasa bahwa ini adalah sesuatu untukku dan aku ingin mengetahui lebih jauh,” ujarnya.

Beberapa minggu lalu Blum memutuskan untuk menjadi Muslim. Sejak itu, ia kerap melakukan shalat lima waktu dan hanya makan makanan yang halal. Awalnya ia takut untuk memberi tahu orang tua soal pilihannya. “Orang tuaku penganut kristiani yang taat. Tapi kemudian mereka berkata bahwa aku harus memilik jalan yang menurutku benar,” katanya.

Selain berkonsultasi dengan rekannya, Blum juga melakukan riset melalui internet dan  buku bacaan. Menurutnya, islam adalah agama yang damai. “Kepercayaanku bilang, jangan paksa orang lain untuk melakukan hal yang tidak ingin mereka lakukan. Jika ingin, itu harus datang sukarela dari hati”

Tim tempatnya bermain juga tidak mempermasalahkan.“Sampai sekarang saya belum mendengan perkataan yang menyinggung. Tapi meski itu terjadi tak akan menggangguku. Setiap orang punya kepercayannya masing masing. Tiap orang harus menjalani jalannya masing-masing," kata dia.

Jerman sendiri adalah rumah bagi hampir 4 juga umat islam, termasuk 220.000 orang yag ada di Berlin. Pendatang dari turki adalah 2/3 bagian dari minoritas muslim disana.


Sumber  : 

REPUBLIKA.CO.ID


PARIS -- Sutradara terkenal asal Prancis Isabelle Matic membuat publik gempar. Melalu akun Facebook resmi miliknya, Matic menyatakan telah memeluk agama Islam.

Isabelle memberikan pernyataan menjadi seorang mualaf beberapa hari setelah insiden penembakan di kantor majalah satir Charlie Hebdo.

"Hari ini, saya telah melalui pilar Islam yang pertama yaitu membaca dua kalimat syahadat. Tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah Rasul-Nya," ujar Isabelle dalam akun Facebook miliknya seperti dikutip OnIslam, Ahad (18/1).

Isabelle mengatakan dirinya benar-benar secara sadar tanpa paksaan atau ancaman dari pihak manapun untuk menjadi mualaf. Menurutnya, pernyataan yang ditulis dalam akun Facebook-nya juga merupakan kebebasan menyampaikan pendapat.

"Di antara pembantaian di kantor Charlie Hebdo dan peristiwa yang mengikutinya, saya menjadi seorang muslim," kata Isabelle.

Isabelle menambahkan, Charlie Hebdo telah melewati batas dalam kebebasan berekspresi. Menurut Isabelle sangat tidak diperkenankan untuk melecehkan Nabi Muhammad. Tetapi, Isabelle mengingatkan untuk tidak perlu terprovokasi dengan sikap Charlie Hebdo.

"Bila kita terprovokasi, itu hanya membuat mereka terkenal saja nantinya, kita harus mengamalkan ajaran Nabi Muhammad yang bersikap ramah walaupun dijelekan oleh penduduk Mekkah jaman dulu," ujar Isabelle.


Sumber : RepublikOnline

Jakarta - HijabersMom Community (HMC) merupakan salah satu komunitas hijab Indonesia yang menjadi wadah para ibu muda untuk mengembangkan diri. Komunitas yang didirikan oleh empat desainer busana muslim --Irna Mutiara, Monika Jufry, Hannie Hananto, dan Najua Yanti-- itu memiliki beragam kegiatan, seperti pengajian, kumpul bersama untuk berbagi pengalaman, serta memberikan kursus singkat sesuai bakat masing-masing.

Salah satu pendiri HMC, Hannie Hananto, mengatakan bahwa HMC kini sedang fokus dan rutin mengadakan pengajian setiap bulan. HMC sudah beberapakali mengundang tokoh agama yang dikenal masyarakat. Seperti pada pengajian hari ini, Senin (19/1/2015), yang menjadi pembicara adalah Imam Shamsi Ali, ustadz asal Indonesia yang populer di Amerika.

Pria yang kerap disapa Shamsi itu merupakan seorang imam di Islamic Center of New York sekaligus direktur Jamaica Muslim Center. Shamsi aktif dalam kegiatan dakwah serta berdialog mengenai agama di Amerika Serikat. Ketika menjadi pembicara di pengajian HMC, Shamsi sedikit bercerita mengenai Islam di Amerika.

Menurutnya perkembangan Islam di Amerika semakin meningkat. Kini tak hanya orang berkulit hitam yang sering menjadi muallaf tapi banyak penduduk berkulit putih yang mulai memeluk agama Islam. Shamsi mengatakan sebagian besar yang muallaf adalah wanita.

"Secara umum Islam di Eropa dan Amerika berkembang secara pesat, perkembangannya empat kali lipat, belakangan ini setiap tahun sekitar 20 ribu sampai 40 ribu muallaf di Amerika. Bukan orang di penjara lagi tapi banyak anak muda, para pendidik, profesional, dan kebanyakan wanita," tutur Shamsi di butik HMC, kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, Senin (19/1/2015).

Shamsi melanjutkan, hampir semua wanita berkulit hitam atau putih yang memutuskan memeluk Islam akan mengenakan hijab. Dari sekian ribu muallaf yang pernah ditemui oleh pria lulusan Universitas Islam Internasional, Pakistan, itu alasan mereka muallaf karena Islam merupakan agama yang menarik, nyaman, dan memberikan ketenangan. Mendengar hal tersebut, Shamsi semakin yakin dan optimis kalau Islam akan terus berkembang di Amerika.

Kini fashion muslim menurutnya juga semakin berkembang yang membuat para muslimah di Amerika menjadi lebih percaya diri. Hijabers di negeri Paman Sam itu juga tidak lagi takut untuk berhijab di tempat umum ataupun ketika bekerja. Bahkan beberapa polisi wanita di Amerika ada yang mengenakan hijab.Next

"Kini yang muallaf banyak dari kalangan profesional, mereka punya posisi tinggi di perusahaan, tapi tetap menggunakan jilbab. Polwan di sana juga ada yang mengenakan jilbab dan tidak menjadi masalah oleh pemerintahnya. Pemerintah Amerika memberikan kebebasan dalam agama," tandas pria yang pernah bekerja di Arab Saudi pada tahun 1995 itu.

Di acara pengajian HMC, Shamsi juga memberikan saran seputar hak dan kewajiban wanita. Beberapa hijabers yang hadir tampak antusias dengan topik yang dibahas. Bahkan hingga waktu habis pun, beberapa dari mereka tak segan-segan untuk bertanya langsung kepada Shamsi.

Lebih lanjut, Hannie mengatakan kalau sebelumnya mereka sudah pernah bekerja sama dengan Shamsi saat diundang ke Amerika pada Mei 2013 lalu. Oleh karena itu saat Shamsi sedang pulang ke Indonesia, mereka mengundang sang ustadz untuk menjadi pembicara di acara pengajian.

Hannie berharap apa yang disampaikan oleh Shamsi bisa diserap dengan baik oleh para hijabers. Hannie menambahkan, pengajian seperti ini digelar setiap bulan dan memiliki pembicara yang berbeda-beda. Tidak hanya anggota HMC yang bisa datang tapi pengajian tersebut juga terbuka untuk umum. Untuk mengikuti gelaran rutin yang diadakan HMC tidak dikenakan biaya administrasi.


Sumber : detik.com

Linda (Widad) Delgado, terlahir sebagai seorang Kristiani dan sejak usia 9 tahun sudah rajin membaca Alkitab. Namun itu tidak menjadikannya percaya begitu saja pada agama Kristen yang dianutnya, oleh sebab itu sampai usia 52 tahun, Linda terus terus melakukan pencarian untuk menemukan kebenaran sejati tentang Tuhan.

Selama puluhan tahun, Linda yang tidak pernah menjadi anggota jamaah salah satu gereja, mempelajari ajaran agama Katolik, Protestan, Mormon, Yehovah sampai agama Yahudi. Namun Linda masih belum bisa menerima ajaran-ajaran agama tersebut.

“Hati saya berkata bahwa Yesus bukan Tuhan tapi hanya seorang nabi. Hati kecil saya berkata, Adam dan Hawa bertanggung jawab atas dosa-dosa mereka sendiri, dan bukan saya. Hati kecil saya berkata, saya selayaknya berdoa pada Tuhan dan bukan pada yang lain. Akal saya mengatakan juga bahwa saya harus bertanggung jawab atas perbuatan baik dan perbuatan buruk yang saya lakukan,” tutur Linda.

Linda yang bekerja sebagai polisi di Arizona, AS mengaku selama itu pula ia tidak pernah berkomunikasi dengan Muslim. Ia, seperti kebanyakan orang Barat, terlalu banyak membaca pemberitaan di media massa tentang agama Islam, yang disebut-sebut sebagai agama yang dianut para teroris fanatik.
“Itulah sebabnya, saya tidak pernah mencoba mencari buku-buku atau informasi tentang Islam. Saya tidak tahu apapun tentang agama ini,” kata Linda.

Awal Perjalanan

Pada usia 52 tahun, Linda dan suaminya yang juga polisi, pensiun dari dinas kepolisian tepatnya pada tahun 2000. Saat itulah ia bertemu seorang penerbang yang minta tolong mencarikan rumah bagi sejumlah polisi asal Arab Saudi yang sedang berada di AS dalam rangka belajar bahasa Inggris dan tugas belajar di akademi kepolisian di Arizona. Para polisi Arab Saudi itu berharap bisa tinggal dengan keluarga Amerika agar mereka bisa mempraktekkan bahasa Inggris dan belajar tentang budaya masyarakat Amerika.
Saat itu, Linda dan suaminya tinggal tidak jauh dengan puteranya yang menjadi orang tua tunggal untuk seorang puterinya. Setelah berdiskusi dengan suaminya, Linda menyatakan bersedia membantu para polisi Arab Saudi itu. Saat itu ia berpikir, ini akan menjadi kesempatan untuk cucu perempuannya belajar tentang orang-orang dari negara lain. Tapi Linda mengaku agak khawatir saat diberitahu bahwa polisi-polisi Saudi itu beragama Islam.

Kemudian seorang penerjemah dari Universitas Arizona mengenalkan anak muda dan tidak bisa berbahasa Inggris. Namanya Abdul. Dialah polisi Saudi yang akan tinggal bersama keluarga Linda. Keluarga Linda cepat akrab dan menyukai Abdul karena perilaku Abdul yang santun.
“Abdul mengatakan, bahwa saya adalah non-Muslim pertama yang pernah diajarkannya tentang Islam,” ujar Linda.

Setelah Abdul, kemudian datang Fahd. Usia Fahd lebih muda dan sangat pemalu. Selain menjadi tutor, Linda, Abdul dan Fahd berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan sebagai polisi, tentang AS, tentang Arab Saudi dan tentang Islam. Linda mengamati bagaimana Abdul dan Fahd serta 16 anggota polisi Saudi lainnya yang sedang belajar di AS itu saling membantu satu sama lain. Dan Linda mengaku kagum pada Fahd dan Abdul yang sama sekali tidak terpengaruh dengan budaya Amerika meski mereka sudah satu tahun tinggal di AS.

“Mereka pergi ke masjid setiap hari Jumat, mereka tetap salat meski mereka sangat lelah dan mereka selalu hati-hati dengan apa yang mereka makan. Mereka menunjukkan pada saya bagaimana memasak beberapa masakan tradisional Arab Saudi, mengajak saya ke restoran dan pasar warga Arab. Mereka juga sangat baik pada cucu saya, memberikannya banyak hadiah, lelucon dan persahatan,” ungkap Linda.

Suatu hari, Linda menanyakan pada mereka apakah punya al-Quran lebih, karena Linda ingin membaca apa sebenarnya isi al-Quran. Fahd dan Abdul lalu menghubungi kedutaan besar Saudi di Washington DC dan minta dikirimkan al-Quran dengan terjemahan bahasa Inggris agar bisa dibaca Linda. Setelah itu, Linda sering bertanya tentang Islam pada dua polisi muda Saudi itu.

Dalam satu kesempatan, salah seorang polisi Saudi meminta istrinya datang dan tinggal di AS. Linda diundang ke rumah mereka dan disana Linda banyak bertanya pada istri polisi tadi tentang busana muslim, wudhu dan banyak hal tentang Islam.
Seminggu sebelum “anak-anak angkat” Linda kembali ke Arab Saudi, ia mengadakan makan malam bersama seluruh keluarga. Linda sengaja membeli jilbab dan baju abaya untuk dikenakan saat malam itu. Linda ingin “anak-anak angkat”nya mengingatnya sebagai saudara perempuan yang mengenakan busana muslimah yang baik.

Sebelum mereka makan malam itu, Linda memutuskan untuk mengucapkan syahadat. Kedua polisi muda itu sangat terharu. Mereka menangis sekaligus tersenyum bahagia melihat Linda menjadi seorang Muslimah.
“Dalam hati saya percaya bahwa Allah telah mengirim kedua anak itu pada saya untuk menjawab doa-doa saya selama puluhan tahun. Saya percaya Dia telah memilih saya untuk melihat kebenaran dan cahaya Islam. Saya percaya Allah telah mengirimkan Islam ke rumah saya. Saya bersyukur Allah telah melimpahkan kasih sayang dan cintaNya pada saya,” tutur Linda tentang keislamannya.
Menjadi Seorang Muslimah

Setelah “anak-anak angkat”nya kembali ke Saudi, Linda secara resmi mendaftarkan dirinya sebagai seorang Muslim dan bergabung dengan sebuah masjid lokal. Linda mengakui, keluarga besarnya masih terkaget-kaget dengan keputusannya memeluk Islam. Mereka berpikir Linda tidak akan lama menjadi seorang Muslim dan dengan cepat akan segera berpindah ke agama lain seperti yang ia lakukan saat masa mudanya dulu.

Beruntung suami Linda orang yang sangat terbuka. Ketika Linda mengatakan bahwa mulai sekarang mereka harus makan makanan halal dan meninggalkan makanan yang diharamkan Islam, suaminya hanya menjawab “okay”. Linda juga mulai menyingkirkan foto-foto manusia dan gambar binatang yang dipajang di rumahnya. Linda tidak lupa menulis surat pada teman-teman dan keluarganya yang non-Muslim, mengabarkan bahwa sekarang ia menjadi seorang Muslim dan itu tidak akan mengubah hubungan mereka.
Sambil terus menjelaskan tentang rukun Islam pada keluarganya, Linda juga belajar salat dan membaca al-Quran, aktif dalam kegiatan Muslimah dan banyak menambah wawasan tentang Islam lewat internet. Lewat internet pula Linda bertemu dengan seorang Muslimah asal Kuwait yang mengiriminya paket berisi jilbab, kaos kaki dan abaya. Sahabatnya itu mengucapkan selamat atas keputusannya menjadi seorang Muslim.


Linda bukannya tidak menghadapi kesulitan beradaptasi dengan sesama Muslimah yang ia jumpai. Dari beberapa masjid yang ia kunjungi, Linda memahami bahwa kelompok-kelompok Muslim di sebuah masjid berkumpul biasanya karena persamaan budaya dan bahasa. Linda pernah merasa menjadi “orang asing” di tengah Muslim yang tidak terlalu mempedulikan kehadirannya. Namun Linda lebih banyak menemukan Muslim yang terbuka, hangat dan siap membantunya untuk belajar Islam.
Sampai sekarang, Linda masih terus belajar dan belajar. Ia kini mengelola situsnya www.widad-lld.com dan menjadi direktur untuk Islamic Writers Alliance. (ln/iol)

Ia memutuskan masuk Islam pada usia 49 tahun, setelah lebih dari 30 tahun melakukan riset dan menjalani berbagai pengalaman hidup. Tahun 1997, warga Amerika keturunan Yahudi yang berprofesi sebagai wartawan dan penulis ini, mengucapkan dua kalimat syahadat dan menggunakan nama islami Suleyman Ahmad. Hingga sekarang, ia dikenal dengan nama itu.
Ahmad mengatakan, keputusannya memeluk agama Islam, merefleksikan banyak hal yang pernah ia saksikan dalam alami sepanjang hidupnya. Ia lahir dari keluarga Yahudi, tapi kedua orang tuanya memeluk agama yang berbeda. Ayahnya memeluk agama Yahudi dan pernah belajar di sekolah Yeshiva, sekolah agama Yahudi untuk anak-anak muda. Sedangkan ibu Ahmad, penganut Protestan yang taat.
“Ibu saya rajin membaca Alkitab dan sangat paham dengan isi Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,” ujar Ahmad.
Situasi politik di tahun 1930-an membawa perubahan bagi kehidupan religius kedua orang tuanya. Ibu Ahmad menyatakan keluar dari agama Kristen sebagai bentuk protes terhadap apa yang dilakukan Nazi pada orang-orang Yahudi. Ibu Ahmad lalu beralih memeluk Yudaisme.
“Kedua orang saya hidup dalam kondisi paradoks yang tragis. Mereka cukup lama hidup dibawah pengaruh Partai Komunis, sementara mereka menjadi pemeluk Yudaisme karena kecewa dengan agama Kristen yang menurut mereka agama yang gagal,” ungkap Ahmad.
Meski penganut Yudaisme, tambah Ahmad, kedua orang tuanya bukan seorang Zionis. Ahmad sendiri mengaku sedih melihat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya konflik Israel-Palestina. “Saya selalu merindukan terciptanya keadilan dan persahabatan antara orang-orang Israel dan Arab,” tukasnya.
Ahmad mengaku sebagai orang kiri yang ekstrim dan radikal di masa mudanya. Ia percaya adanya Tuhan, tapi tidak pernah terlalu serius menanggapi masalah ketuhanan dalam hidupnya. Ketika ia mulai melakukan pencarian akan kehidupan spiritualnya, Ahmad tertarik pada ajaran Katolik. Namun ia tidak pernah menyatakan diri pindah dari Yudaisme ke agama Katolik.
“Saya sangat terkesan dengan literatur agama Katolik yang mistis. Saya mulai mengetahui bahwa dibalik pencapaian besar agama Katolik di Spanyol, ada sejarah Islam di sana. Agama Islam yang indah telah banyak memberikan inspirasi pada tradisi di Spanyol,” tutur Ahmad.
Ia jadi sering bolak balik ke Spanyol, menelusuri sisa-sisa masyarakat Islam di semenanjung Iberian. Sebagai penulis, ia melakukan riset atas fenomena pengaruh budaya Islam terhadap tradisi Spanyol selama bertahun-tahun, ia juga mempelajari puisi-puisi karya seniman Spanyol yang membuktikan dalamnya pengaruh Islam pada karya-karya mereka.
Setelah sempat mempelajari Kabbalah–tradisi mistis masyarakat Yahudi–pada tahun 1979, Ahmad akhirnya tertarik pada ajaran Islam. Ia memutuskan untuk mempelajari Islam pada tahun 1990-an, ketika ia ditugaskan ke kawasan Balkan sebagai wartawan. Ia datang ke Sarajevo untuk melaporkan perang Bosnia ketika itu.
“Di Sarajevo, saya menemukan banyak hal yang mengagumkan. Saya seperti menemukan Eropa yang islami. Suasananya tidak membuat saya merasa sebagai turis. Di sini saya bertemu dan berinteraksi langsung dengan warga Muslim dan para pemuka agama Islam …”
“Saya menemukan banyak puisi dan musik-musik yang mengekspresikan nilai-nilai Islam yang penuh cinta dan kemuliaan. Saya menemukan sisa-sisa peradaban Islam dari zaman dinasti Ustmaniyah. Di Sarajevo, saya membaca Al-Quran dan monumen-monumen Islam,” ungkap Ahmad.
Setelah perjalanan ke Sarajevo, tepatnya pada tahun 1997, ia akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Sejak menjadi seorang muslim, Ahmad selalu dengan hati-hati memberitahu tentang keislamannya pada teman-temannya, tetangga atau rekan kerjanya. Ia tidak mau keislamannya menjadi kontroversi. Ia juga tidak mau orang berpikiran “ada sesuatu” dibalik keislamannya.
Sejak memeluk Islam, Ahmad mengaku tidak pernah mengalami hal-hal buruk terkait keislamannya. Beberapa orang di tempat kerjanya, ada yang terkejut setelah mengetahui ia sudah masuk Islam, tapi mereka tetap menghormatinya sebagai rekan kerja.
“Saya melihat beberapa orang menilai pengalaman saya bertugas di Balkan yang mempengaruhi saya masuk Islam. Saya ingin meluruskan bahwa saya masuk Islam bukan karena alasan politik atau karena masalah kemanusiaan, tapi karena meyakini bahwa pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. adalah bukti yang jelas dari apa yang diinginkan Allah dari umat manusia,” tukas Ahmad.
Ia mengungkapkan, salah satu aspek dalam Islam yang sangat membuatnya terkesan adalah ketenangan batin karena konsep berserah diri atas semua kehendak Allah. Ia melihat konsep ini tercermin dalam sikap ikhlas, sederhana dan kerendahan hati Muslim Bosnia, meski mereka sedang mengalami situasi yang penuh dengan kekejaman dan kezaliman.
Namun Ahmad mengaku sedih melihat kondisi umat Islam saat ini, yang menurutnya sudah makin terpecah belah. “Sebelum saya memeluk Islam. Saya terkesan dengan nilai-nilai yang ditunjukkan komunitas Muslim dan Amerika dan kekuatan moral yang ditunjukkan Muslim Balkan. Hari ini, saya harus mengatakan, agak sedih melihat umat terpecah belah dan saling berseteru satu dengan lainnya. Saya juga prihatin kegagalan umat Islam untuk melakukan sesuatu yang lebih besar bagi para korban imperialisme Kristen Ortodoks di Balkan,” ujar Ahmad mengungkapkan keprihatinannya.
“Tapi Islam telah membawa keindahan dan kedamaian pada hidup saya. Seperti yang sering saya katakan pada banyak orang, sisa hidup saya akan saya dedikasikan untuk beribadah pada Allah dan saya pribadi berjanji akan melakukan apa saja yang saya bisa untuk membantu membangun kembali masjid-masjid di Bosnia dan Kosovo,” tandas Ahmad. (ln/TJCI)

Kutipan dari : eramuslim.com
Powered by Blogger.